Aku Hanya Ingin Kakakku
Kembali
Oleh: Nida'ul Khasanah
Handphone
itu masih erat kugenggam, saat bulir-bulir air mata ini semakin melesat deras
membanjirinya. Kuremas-remas benda tersebut menjadi semakin terkoyak. Kini
barang itu remuk berkeping-keping dan kuhamburkan ke lantai begitu saja.
Tangisku semakin menjadi saat memori itu kembali berputar, kenyataan yang baru
beberapa menit yang lalu terjadi. Yah.. Aku ingat betul, telepon genggam warna
merah dengan model kekinian. Meskipun merek China dan murahan, tapi aku tetap
senang ketika ayahku menepati janjinya membelikan barang itu, telepon genggam
yang akan membuatku lebih update dan gaul. Aihh...susah payah aku saat harus
berjuang memenangkan olimpiade se-provinsi sehingga mendapatkan uang demi
memenuhi harapan membeli handphone impian itu. Hanya karena sebuah pertengkaran
kecil, kini barang itu sudah beralih menjadi rongsokan.
"Sini, aku pinjam sebentar," ucapan kakakku
yang masih terngiang dalam memori.
"Sebentar, aku masih main game nih," elakku,
menolak untuk memberikan handphone itu.
Hingga beberapa jam kemudian aku masih sibuk dengan
permainan di HP baruku, bahkan aku tak sempat melihat rona wajah kakakku saat
itu ketika ia tiba-tiba merebut Hp dari tanganku kemudian memukulinya dengan
palu. Dan jadilah Handphone baru itu menjadi barang rongsokan seperti aaat ini.
Memang
aku sangat menyesalkan kejadian tersebut. Tapi yang lebih menjadi bebanku
adalah, mengapa kakakku berpikiran sangat sempit begini. Mengapa ia tidak
berpikir dewasa sedikit untuk kemudian mengalah padaku, adiknya. Aku merasa ada
yang berubah dengan kakakku, dia sepertinya tidak lagi mempedulikan perasaan
orang lain, bahkan dengan aku saudaranya sendiri. Ia tidak menyesali ataupun
meminta maaf padaku seusai meremukkan barangku itu. Dan sikap itulah yang
membuatku merasa aneh. Raihan, kakak lelakiku yang kukenal sangat sopan,
pemaaf, cerdas, penyabar dan tidak pernah menyakitiku kini menjelma menjadi
musuh yang mengerikan di mataku.
Aku
dan kakakku, kami hanya beda satu tahun. Tetapi kami selalu bersekolah pada
tingkat yang sama. Aku memang disekolahkan lebih awal dari anak-anak seusiaku,
sehingga umur 5 tahun aku sudah masuk SD bersama-sama dengan kakakku. Kami
selalu satu sekolahan, hampir duabelas tahun dan sekarang-pun masih satu sekolah.
Kami sampai dikira anak kembar, bahkan dikira pasangan yang berpacaran. Sekian
lama selalu bersama, aku cukup mengenalinya, tapi kurasa tidak untuk saat ini.
Karena sepertinya kak Raihan telah banyak berubah. Ia sering merenung sendiri
seperti ada hal yang sangat mengganjal dihidupnya.
*****
"Ayo, cepetan! Nanti kita telat. Kalo telat kamu
mau tanggung jawab po jika aku nanti dihukum," ajakku kasar pada kakakku
karena masih ada rasa marah akibat masalah HP kemarin.
Kakakku
tak membalas apa-apa dengan omongan kasarku itu, ia juga tak mengangguk untuk
sekadar mengiyakan. Ingin rasanya aku menumpahkan kejengkelanku sepuas-puasnya
pada pagi ini. Tapi karena melihat reaksinya yang dingin dengan tatapan kosong,
aku memilih untuk mengurungkan niatku. Kami berjalan beriringan menuju halte
bis tanpa kata-kata. Sudah sejak Subuh tadi kakakku tak bersuara, ia juga tak
menanduki sama sekali setiap ucapan kasar dan makian yang keluar dari bibirku.
Kakakku yang memang sangat dewasa, dia selalu diam mengalah untuk menghindari
pertengkaran. Tapi diamnya kali ini, diam yang berbeda. Dia menatapku dengan
tatapan asing, dan terkadang sangar seolah aku ini adalah musuhnya.
Istirahat
siang itu aku lebih memilih untuk nangkring di kantin ketika salah seorang
teman kak Raihan menepuk pundakku.
"Heh, kakakmu kok aneh sekarang. Dia gak mau
keluar kelas, bahkan ia juga selalu menutupi wajah dengan kedua telapak
tangannya," ucap Denis teman sekelas kakakku di XII IPA 4.
"Ya, baguslah. Mungkin dia menyesal dengan apa
yang dilakukannya kemarin," jawabku sekenanya sambil mengunyah siomay.
"Loh, memangnya dia kemarin melakukan apa?,
setauku kakakmu orang yang baik," kali ini Denis menarik kursinya
kehadapanku dengan tatapan menginterogasi. Membuatku jadi keselek karena
terkaget-kaget.
Aku kemudian menceritakan perihal rusaknya HaPeku pada
Denis.
"Aku tak percaya kalau Raihan yang benar-benar
melakukan itu. Dia sangat menyayangimu sebagai adik satu-satunya bukan?,"
Denis geleng-geleng kepala.
"Tapi kenyataannya memang seperti itu," aku masih
menyalahkan kakakku.
"Kamu sebagai adik, apa tak merasa ada yang
berubah dengan kakakmu?," selidik Denis seolah tau apa yang menjadi
pikiranku saat ini.
"Iya sih, aku merasa kakakku memang
berubah," jawabku jujur akhirnya.
"Kalo betul begitu, apa kau masih menyalahkan
kakakmu? Lebih baik kau perhatikan kakakmu. Karena sikapnya akhir-akhir ini
seperti orang depresi," ucapnya serius.
"Iya deh, pak psikolog..hehe," celetukku
bercanda
"Aku serius," Denis seperti menggertakku,
menandakan apa yang diucapkannya benar-benar serius.
Perbincangan kami berhenti sampai disitu ketika bel
tanda masuk berbunyi.
*****
Sepulang
sekolah aku menuruti perkataan Denis, mencoba memperhatikan kakakku. Kuamati
hidungnya, mulutnya, telinganya, rambutnya, sama saja tidak ada yang berubah.
Tapi bukan itu yang dimaksud Denis, aku harus memperhatikan isi kepalanya.
Jalan satu-satunya untuk mengetahui apa yang ada di hati dan pikirannya adalah
mengintip tulisan-tulisannya. Karena sering kulihat, kak Raihan memang rajin
menulis di buku diary-nya. Saat kakakku keluar rumah, aku diam-diam masuk ke
kamarnya. Astaga... Aku sampai tak tau kalau kakakku sekarang beralih profesi
menjadi pelukis dadakan. Kulihat seluruh dinding kamarnya belepotan
gambar-gambar sayap terbang, kuda terbang, malaikat terbang, bidadari terbang,
burung terbang mungkin juga piring terbang. Gambar-gambar itu terlihat menyeramkan,
seperti lambang keputusasaan. Setelah nyungsep di kolong tempat tidur, akhirnya
kutemukan juga buku diary itu. Sepertinya kakakku sudah lama tak menulis,
karena buktinya buku itu penuh dengan sarang laba-laba.
Aku langsung berlari ke kamarku saat kudengar langkah
kak Raihan menuju kamarnya.
Tak
ada yang istimewa dengan diary itu saat aku membukanya, karena isinya memang
tulisan semua. Hanya, mataku terhenti di halaman bertanggal 23 Agustus 2013.
Hari
ini aku sudah memasuki tingkat 2 sekolah SMA-ku, SMA teladan yang sangat
diimpi-impikan orang. Tak ada yang istimewa ketika aku naik ke tingkat ini,
karena memang nilaiku pas-pasan. Berbeda dengan adikku, dia memang gadis yang
pintar, dia selalu mendapat rangking satu. Semua orang memujinya, banyak juga
teman lelakiku yang jatuh cinta padanya. Itu semua tak salah, justru aku sangat
bangga bisa memiliki adik sepertinya. Yah..meskipun kami orang tak punya, tapi
setidaknya adikku bisa mengangkat derajat keluarga. Bersekolah di tempat elit
seperti ini sebenarnya memang salah untukku. Karena orang tak punya sepertiku
memang tak pantas berada didalamnya. Alasan itu cukup logis yang membuat
teman-temanku sering memperolok dan merendahkanku. Aku tak marah dengan cibiran
mereka, karena apa yang mereka katakan memang suatu kenyataan. Tapi aku sangat
tak terima ketika beberapa cewek menginjak-injak harga diri adikku karena
masalah itu. Inginku, cukup biar aku saja yang diperolok, bukan adikku. Dalam
pikiran, kubela mati-matian harga diri adikku. Meskipun pada kenyataannya aku
hanya teronggok sembunyi melihat adikku menangis dibully oleh cewek-cewek elit
tak berperikemanusiaan itu. Untung saja adikku memiliki ksatria-ksatria
pelindung yang siap sedia menjaganya, yaitu cowok-cowok yang mencintainya. Aku
cukup senang, meskipun sebenarnya batinku menjerit mengatakan bahwa aku ini
cowok tak berguna, melindungi adik sendiri saja tak becus.
Aku
terhenti membaca ketika penglihatanku menjadi buram karena air mata yang
menggenang memenuhi pelupuk mataku. Aku sangat sedih, karena sudah selama ini
aku bersamanya tak pernah memahami ketulusan yang terpancar dari hatinya. Aku
juga tak pernah menghargai usahanya untuk selalu melindungiku. Kulanjutkan
membaca diary itu. Kali ini bertanggal 24 Agustus
Sebenarnya
aku bukan iri pada adikku, aku hanya ingin ada seseorang yang mau menghargaiku.
Tak harus banyak orang yang mendukungku, aku hanya butuh seseorang saja. Karena
kurasa, orang-orang di dunia ini semakin tidak ada yanhg mempedulikanku. Ya,
memang benar, untuk apa mereka mempedulikanku, aku ini tidak berguna.
Teman-teman sekelasku malah semakin getol mengejekku, mereka bilang aku ini cowok cemen yang gak
bisa ngetrek seperti mereka, yang gak punya duit buat hangout sama orang-orang
sekelas mereka. Lama-lama kepalaku pusing dibuatnya, hatiku panas. Tak ada
sedikitpun niatku untuk membalas mereka, meski mereka mempermalukanku
sekalipun. Aku hanya bersabar, sampai rasa sabarku memuncak diubun-ubun yang
membuatku terkadang kehilangan kendali sehingga jiwaku menjadi hilang. Aku
sering lupa jatidiriku, semua itu semakin parah yang membuatku kedatangan
bisikan-bisikan aneh untuk melakukan hal tak benar. Dan bodohnya, bisikan itu seolah
perintah wajib yang membuatku selalu menurutinya. Aku juga sering berbicara
dengan ilusi sehingga seperti berbicara sendiri. Oh..Tuhan, aku sadar kalau aku
gila.
Halaman
itu sudah habis, membuatku tercenung menyesali segala sikap bodohku selama ini.
Keesokan
paginya kakakku mengunci diri di kamar, jam menunjukkan pukul setengah tujuh,
tapi ia tak kunjung siap-siap ke sekolah. Aku mengintip dari balik lobang
kunci, kak Raihan seolah sedang berbicara pada seseorang, padahal aku tak
melihat siapa-siapa di dalam kamarnya.
"Kak, buka pintunya. Hari ini kan hari Rabu,
kakak tidak ke sekolah memangnya?" bujukku pada kak Raihan dengan tidak
kasar lagi.
"Minggir kau b*jing*an!!, kau ingin membunuhku
ya?" ucap kakakku dengan nada tinggi. Aku tersentak, ada apa dengan
kakakku ini, dia tidak pernah mengataiku seperti ini sebelumnya, saat kita
bertengkar hebat sekalipun. Aku mengintipnya dari balik lobang kunci sekali
lagi, kulihat ia membenamkan kepalanya dibawah bantal seolah ada yang meneror.
"Kamu kenapa kak?, ini aku, Rena adikmu,"
teriakku khawatir sambil menggedor-gedor pintu.
"Kubilang pergi, ya pergi. Jangan ganggu aku
lagi!," bentak kakakku kasar.
Aku memutuskan untuk berangkat duluan ke sekolah,
karena hari sudah semakin siang. Lagian kakakku malah meracau tak keruan. Aku
tak mengerti apa yang terjadi pada kakakku.
Aku
buru-buru menuju kelas kak Raihan waktu istirahat, untuk memastikan apakah ia
berangkat atau tidak. Tepat seperti dugaanku, kak Raihan memang tidak masuk
sekolah. Hanya kujumpai Denis yang tengah duduk dibangku kak Raihan biasa duduk
ketika aku masuk kelas XII IPA 4. Teman-teman gadis kakakku kemudian berkerubut
menanyaiku, untuk sekadar memastikan apakah kakakku baik-baik saja dan
menanyakan kenapa kakakku tidak masuk hari itu. Aku tidak tahu harus menjawab
apa, jadi aku hanya menggeleng saja. Meskipun kenyataannya mereka protes bahwa
sangat tidak mungkin aku tidak mengetahui keadaan kakak sendiri. Beruntung
Denis segera menyelamatkanku dari berondongan pertanyaan mereka.
"Maaf ya, aku ada keperluan sebentar dengan Rena.
Tolong kalian minggir dan beri kami jalan," ujar Denis sembari menarik
lenganku. Para cewek itu hanya nyengir kuda, meskipun ujung-ujungnya mereka
mengalah dengan lelaki tampan anak pejabat DPR pusat ini.
"Hheh..jadi gimana Raihan? Apa dia baik-baik
saja?," cecar Denis saat kami sampai di kantin.
"Kelihatannya kakakku kurang baik," jawabku
sedih.
"Kenapa bisa begitu? Coba ceritakan padaku,"
kali ini lelaki itu memainkan sedotan plastik di minumannya.Aku menceritakan
semua pada Denis, tentang tulisan di diary, sikap kakakku yang aneh tadi pagi,
tak lupa juga gambar-gambar di dinding kamar kakakku. Denis menyimak detil
setiap perkataanku sambil sesekali mengernyitkan dahi.
"Benar dugaanku, kakakmu memang sudah depresi. "
tanggap Denis seusai aku bercerita.
"Hhahh, terus aku harus gimana? Apa yang harus
aku lakukan?," selidikku khawatir.
"Mendengar ceritamu dan kulihat gelagatnya
akhir-akhir ini, sepertinya Raihan sudah masuk gejala skizofrenia. Kakakmu
harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa," ucapnya sambil menggelengkan
kepala.
"Kamu kurangajar ya Den!, Berani-beraninya kamu
menilai kalau kakakku itu gila. Kamu gak usah sok ngerti deh!," Aku muntab
mendengar ucapan Denis barusan.
"Maafkan aku Ren, bukan maksudku mengatai kakakmu
seperti itu. Kamu tau sendiri kan? Ibuku psikiater, banyak kasus orang yang
seperti Raihan, dan apa salahnya coba jika dikonsultasikan dengan dokter jiwa?"
jelas Denis meyakinkanku.
"Tidak! Kakakku tidak gila! Dia hanya lelah. Aku
tau betul, kakakku orang yang kuat menghadapi segala masalah," aku mulai
menangis tersedu-sedu.
"Sudahlah, jangan sedih. Aku akan membantumu,
ibuku seorang psikiater. Besok aku akan berkunjung ke rumahmu," ucapan
Denis cukup menenangkanku.
"Terima kasih teman, kau memang benar," ujarku
tersenyum.
"Teman? Memang aku temanmu?," Denis malah
menggodaku.
"Lah kalo bukan teman memang apa?" jawabku
sekenanya.
"Lebih dari temen nggak boleh?" ia semakin
kurangajar. Aku hanya terkekeh mendengar penjelasannya barusan.
"Hheh..kenapa tertawa? Aku serius, jujur aku
mencintaimu?," Nampak wajah Denis yang serius kali ini, membuatku berhenti
tertawa karena merasa tidak enak.
Hingga beberapa menit kemudian aku hanya terdiam
menggigit bibir, mencoba menerjemahkan apa yang barusan kualami. "Kurasa
ini suatu kesalahan," ujarku kemudian untuk memastikan apa yang terjadi.
"Tapi, bukankah cinta tak pernah salah? Begitupun aku yang mencintaimu
apakah itu suatu kesalahan? Bisa jadi ini memang rencana Tuhan untuk kita
bukan?" Lelaki itu mencoba meyakinkanku.
"Teet..teet...teet," bel terdengar nyaring
sekali di telingaku, yang membuat obrolan kami lagi-lagi terputus dan aku belum
sempat menjawab pertanyaannya apalagi menanyakan seperti apa perasaan cintanya
padaku.
*****
Karena
sibuk memikirkan kakakku, aku sampai lupa kalau aku harus menyiapkan olimpiade
tingkat nasional yang tinggal seminggu lagi. Aku mewakili provinsi DIY di ajang
ini karena kemarin aku menjadi juara 1. Aku belajar siang malam supaya dapat
membawa nama harum sekolahku tercinta, dan yang terpenting bisa mengangkat
harga diriku di mata orang-orang yang mengaggapku rendah.
Hari
terakhir menjelang keberangkatan lomba, banyak teman-teman menyalamiku,
guru-guru juga begitu seolah mereka sangat menaruh harap padaku. Aku terharu
dengan iringan doa mereka, baru kali ini aku merasa semua orang begitu
menghargaiku dan menganggapku ada. Ah..aku jadi teringat kakakku, aku ingin dia
sekarang juga berada di posisiku, menjadi orang yang disanjung dan
dielu-elukan. Tergambar jelas di memoriku, kakakku yang selalu mengalah untuk
memberikan semua padaku, supaya aku bisa menjadi lebih darinya, supaya aku bisa
juara kelas, supaya aku bisa punya buku tulis lengkap dan supaya aku tetap
tersenyum dengan guyonan-guyonannya. Sinar matanya yang menyorotkan ketulusan supaya
aku dapat menggapai mimpi-mimpiku, terus saja menerorku. Membuat sudut mataku
berlinangan air mata, menyayangkan keadaan kak Raihan saat ini, kakakku yang
gagah dan tampan kini hanya tergolek meladeni halusinasi dan pikiran kacaunya.
Aku merasa sangat bersalah, seharusnya dia tak seperti itu, karena ia
sepantasnya bahagia setelah banyak mengorbankan kesenangannya untukku.
"Hei, kenapa bersedih? Ayo dong semangat! Kamu
akan berlomba," ucap Denis mengagetkanku.
"Oh, kamu. Aku gak papa," jawabku sambil mengusap
air mata. Meskipun orang spesial yang datang dihadapanku, hatiku tetap
bersedih. Kenangan kakakku takkan tergantikan oleh siapapun.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan dan rasakan, tapi
kamu harus tetap memberikan yang terbaik dalam ajang ini. Bukankah ini
cita-citamu?," Denis mencecar mataku, mencari arti disana.
"Kamu benar, tapi aku tetap menginginkan kakakku
kembali," balasku sambil menahan tangis.
"Fokuslah di perlombaan besok. Jangan pikirkan
apapun, aku akan membantumu untuk mengembalikan Raihan sebagai kakakmu seperti
dulu," Denis tersenyum manis sekali. "Oh ya, disana pasti dingin.
Bawalah syal ini, jangan lupa aku juga bawakan bekal coklat untukmu, dimakan
ya," lelaki blasteran indo-Jerman itu mengalungkan syal dileherku, membuat
jantungku berdegup gak karuan, dan kurasa perasaan cintaku padanya mulai tumbuh
seperti rumput-rumput di penghujan, cepat sekalii.
Aku tak sanggup mengucapkan kata-kata, bahkan untuk
sekedar berterimakasih, sampai ia kemudian pergi begitu saja dan meninggalkanku
yang masih terbengong.
Sore
itu juga aku berangkat ke Bandung menggunakan pesawat, aku menuruti saran Denis
untuk fokus pada perlombaan, sehingga saat perasaan kacauku muncul, aku membuka
bungkusan cokelat bekal dari Denis. Setiap bungkusan cokelat yang akan kubuka,
selalu saja ada kertas note yang berisikan kata-kata seperti "Tetap
semangat gadis manis!", "Doaku selalu membersamaimu cantik,"
atau kata -kata yang agak lebay, "Semoga malaikat selalu menjagamu
bidadariku." Aku hanya tersenyum simpul sambil terus membacanya sampai
rasa sedihku menghilang sementara dan otakku menjadi sangat encer karena tidak
ada beban sama sekali sehingga semua babak perlombaan dapat kuselesaikan dengan
cukup baik dan aku mendapatkan medali emas yang kuimpi-impikan.
Memang
mimpiku saat ini telah ujud, menjadi sang juara yang dulu kudamba kini
benar-benar nyata. Tuhan memang sangat baik padaku. Siang itu sepulang dari
Bandung, kupersembahkan medali itu pada keluarga, terutama kak Raihan, aku
mencari-cari ia sambil meneriakkan kebanggaan. Saat kutemukan dia, aku
bercerita panjang lebar sambil menunjuk-nunjuk medaliku. Tapi kenyataannya
kakakku malah bersedih dengan tatapan kosong. Ia merebut medali dari tanganku,
kemudian melepas rantai yang mengikatkan medali itu pada talinya dan dilemparkannya
jauh entah kemana, mungkin menghilang ditelan kesedihannya. Aku hanya terpana,
tanpa bisa marah-marah seperti saat kakak meremukkan handphoneku dulu. Untuk
sekian lama aku terdiam, mencoba memahaminya. Aku memeluknya erat kemudian,
mempelajari raut mukanya. Aku tau, aku tak butuh lagi medali itu, aku hanya
butuh kakakku kembali. Masa bodo dengan harga diri, karena tiada yang lebih
berharga selain kakakku.

keren sekali...
ReplyDelete