Tuesday, May 26, 2020

"New Normal" Menghadapi Covid-19 di Indonesia, Solusi atau Ketidakmampuan?

Edit Posted by with 2 comments

Sources: https://asset-a.grid.id/
Saat ini dunia sibuk. Hal yang sungguh di luar dugaan, membuat dunia ini gonjang-ganjing. Hanya karena sebuah virus yang ukurannya sangat mikro, hampir semua negara mengambil kebijakan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, menutup perusahaan, menutup sekolah, membatasi aktivitas di luar rumah, bahkan menutup negara. Dampak dari kebijakan-kebijakan tersebut membuat sebagian besar warga dunia melakukan aktivitas di dalam rumah,

Menghadapi kondisi ini, pimpinan suatu pemerintahan dan negara benar-benar diharapkan kebijaksanaanya dalam membuat keputusan terkait Covid-19 ini. Tak terkecuali Indonesia, tidak hanya masyarakatnya saja yang dituntut bijaksana. Karena memang sudah sejak dahulu rakyat Indonesia sudah amat bijaksana, memiliki rasa kepedulian yang tinggi, rasa gotong royong yang tinggi. Hal ini memang sudah tercermin dalam nilai-nilai Pancasila. Semenjak awal pandemic, bagaimana orang-orang atas nama pribadi, atas nama lembaga, begitu murah hatinya mereka mengulurkan bantuan. Kegiatan tersebut sungguh sangat bagus dan patut kita dukung. Akan tetapi, apakah pandemic virus ini hanya cukup dengan masyarakat saja yang bijak?. Tentu tidak,  kita juga butuh pemerintah yang bijak.

Melihat beberapa negara melonggarkan kebijakan lockdown, bahkan sudah memulai kehidupan normal, dengan menerapkan prosedur protokol kesehatan, Indonesia seolah terburu untuk juga cepat-cepat menerapkan hal yang sama. Tapi tunggu dulu, negara-negara seperti China, Thailand, Vietnam, Selandia Baru, pemerintahannya telah berupaya sangat keras dalam menanggulangi kasus ini sebelumnya, membuat kebijakan-kebijakan yang tegas, strategis, tapi solutif. Disaat negara lain masih menyepelekan kasus ini, negara-negara tersebut telah terlebih dahulu menahan diri dan mengambil langkah preventif. Sehingga saat ini kasus corona di negara tersebut dapat ditekan seminimal mungkin bahkan sampai pada nol kasus. 

Kemudian muncul pertanyaan, apakah pemerintahan negara Indonesia sebelumnya sudah mengeluarkan strategi dan kebijakan yang efektif untuk menanggulangi wabah ini? Sehingga sangat buru-buru menerapkan new normal?

Kebijakan pemerintah Indonesia sepanjang menghadapi kasus ini masih belum jelas arahnya, sehingga keberhasilannya tidak dapat diukur. Angka-angka yang muncul dalam update data jumlah positif COVID-19, jumlah yang sembuh, dan jumlah yang meninggal tidak dapat menggambarkan dan memberikan kesimpulan tentang penanganan Covid-19 di negara Indonesia. Apalagi untuk menjudge bahwa kasus Corona di Indonesia cenderung stabil.

Kembali kepada wacana new normal. Mari berkaca dari ketidakmampuan pemerintah dalam mengantisipasi masuknya virus Corona sebelumnya. Sangat mudah diprediksi, jika wacana new normal ini sebagai ungkapan halus dari "ketidakmampuan", atau "melarikan diri", atau "terserah". Kata "new normal" seolah sebagai frasa pengkaburan, melindungi diri. WHO memang menyatakan bahwasannya virus ini tidak akan bisa hilang seutuhnya dari muka bumi ini, dan kita harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan virus ini. Apakah dasar itu yang dijadikan kambing hitam, sehingga pemerintah kita akan mewacanakan new normal dengan kondisi kita yang saat ini?.

Dengan skema new normal, sangat dimungkinkan terjadi lebih banyak penambahan kasus positif Corona di Indinesia. Sedangkan kapasitas dan kualitas medis kita masih rendah. Kemudian apa yang terjadi, sungguh betapa saya tidak ingin membayangkannya.

Pemerintah saat ini malah fokus menyusun skema new normal. Dan saya sungguh sangat menyayangkan hal ini. Karena sungguh ini menunjukkan ketidakseriusan pemerintah dalam menanggulangi kasus corona.  Kalau saya masih bisa usul ni Yee. Seharusnya pemerintah fokus dalam menekan, kalau perlu menghabisi virus Corona terlebih dahulu. Indonesia ini negara yang besar, negara yang kaya (katanya), silahkan dioptimalkan segala sumber daya yang ada untuk fokus menangani hal tersebut (Soalnya yang saya tahu sumber daya termasuk sumber dana sudah digelontorkan sebesar-besarnya, tapi tidak tahu jluntrungnya, dan optimal tidaknya). Buat kebijakan yang tegas, efektif, dan solutif. Kebijakan yang efektif bukan soal kaya, miskin, atau mampu, tidaknya negara, akan tetapi bagaimana kapabilitas pemerintahan dalam mencari solusi atas hal tersebut (kasarannya tingkat kecerdasan, hehe). Jangan hanya menghimbau-menghimbau, (saya ngga suka dihimbau, saya sukanya disayang) (meskipun ini sebenarnya sudah telat). Setelah penyebaran virus ini bisa ditekan seminimal mungkin, tidak ada lagi yang meninggal karena co-vid, baru silahkan dipikirkan protokol untuk new normal.


 ~Salam~

                                  Jogja, 26 Mei 2020.

Ini hanya coretan saya, kalau ada yang salah silahkan dikoreksi. Kalau ada yang berbeda pendapat mari kita berdiskusi di kolom komentar(Nid).

Balada Patah Hati

Edit Posted by with No comments
Terlalu peri lubuk hati ini untuk dirasa
Bukit jaladra di antah berantah-pun tak hendak membendungnya

Terlukiskan rona beralas pamor kemerahan
Rona itu tak tau siapa punya
Dia gambaran kerontang jiwa

Kalbu ini berbalutkan kabut-kabut luka, tergores tajamnya belati cinta
Pedih, tertusuk runcing sudut asmara

Tiada lembut sehalus sutra,
ketika menapak menyeberanginya

Sungguh, ingin hati melabuh bawah bendera kasih, merajut untai benang merah hati.
Apalah daya, tenggelam karam segala rasa ini, teremah-remah bagai keping yang terkoyak

Seraut Wajah

Edit Posted by with No comments
Malam menyelimuti sunyi
Masih membisu menidurkan kelam
Seraut wajah muncul balik remang malam
Timbul tenggelam tersapu kabut kesedihan
Kabur sosoknya tergantikan bayang keruhku

Tinggal hanya bayang
Terdiam,
meretas harap akan kembalimu
Menukikkan radar-radar cinta

Biar,
Kan kujajah batinku dengan serbuan rindu
Kujalin hatimu dengan seluruh cinta
Serta kubasuh kalbumu dengan gemericik kasih

Wahai seraut wajahmu,
beri aku ilusi untuk menghidupkan getar-getar rasa
Agar tak kaku segala rinduku


Contoh Teks Pidato Perpisahan 2020

Edit Posted by with No comments
Assalamu'alaikum wr.wb

Bapak/Ibu Guru yang saya hormati, serta teman-temanku semua yang berbahagia, marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayahnya, sehingga kita dapat berkumpul dalam acara perpisahan kelas ...  ini dalam keadaan sehat wal 'afiat.

Hari ini adalah hari perpisahan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, saat-saat kita tertawa, berjumpa, dan berdiskusi bersama, akan segera berpisah. Namun Bapak/Ibu Guru dan teman-teman jangan bersedih hati, karena kami siswa-siswi kelas... tidak akan melupakan semua yang ada disini. Kenangan akan ketabahan bapak/ibu dalam membimbing kami serta hal-hal lain, akan tetap tergoreskan di hati kami.

Dalam acara yang mengharukan ini, saya selaku wakil kelas..., mengucapkan terima kasih atas begitu banyak pengajaran dan pelajaran yang sudah bapak/ibu guru berikan kepada kami, tak akan mungkin kami dapat membalas jasa bapak ibu guru.

Saya selaku wakil kelas... juga meminta maaf jika kami selama menuntut ilmu disini banyak melakukan kesalahan baik terhadap adik-adik kelas maupun terhadap bapak/ibu guru.

Pesan saya untuk teman-teman kelas..., janganlah kalian puas sampai disini, teruslah kalian berlari, dan berlari untuk menggapai impian yang kalian cita-citakan. Dan untuk adik-adik kelas, teruslah kalian berkarya dan berkarya, karena kalian adalah penerus kami. Maka majikan dan jagalah nama baik sekolah kita ini.

Sebenarnya berat rasanya bagi kami untuk melepas semua yang ada disini, namun karena kami akan melanjutkan perjalanan cita-cita kami, maka kami akan segera melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan meninggalkan sekolah ini. Oleh karena itu, kami mohon do'a restu dari bapak/ibu guru dan teman-teman sekalian.

Kiranya cukup sekian pidato dari saya, apabila ada kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya

Wassalamu'alaikum wr.wb

Sunday, April 09, 2017

Memesona Itu Smart

Edit Posted by with No comments
Gb.1. R.A Kartini dengan pesona kepandaiannya
Sources: https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

Wanita dengan adanya terlahir bersama kecantikan dan keanggunannya, namun hanya segelintir orang yang bisa memahami itu. Wanita masa kini lebih disibukkan dengan definisi cantik lahiriah, mereka terus mengutuki dirinya, memoles ragawinya dan pusing memikirkan kekurangannya sehingga tidak dapat memaknai kata memesona. Padahal, dengan kondisi bagaimanapun wanita itu tetaplah menjadi permata.
Suatu anggapan kurang  ‘pas’  yang selalu dijadikan patokan, bahwasannya wanita yang cantik itu menarik. Menjadi wanita cantik secara lahiriah memang patut disyukuri, tapi apakah jika wanita secara lahiriah/fisik kurang cantik tidak bisa dianggap menarik dan memesona? Dan apakah wanita yang hanya cantik secara fisik tetapi tidak punya sopan santun dianggap memesona dan menarik?. Ada banyak alternatif jawaban tentang definisi memesona. Tetapi bagiku, memesona itu adalah smart
R.A. Kartini merupakan orang yang memesona karena kepandaiannya, beliau-lah yang  menjadi pelopor kesetaraan gender. Kita harus tahu bagaimana perjuangan R.A Kartini dalam merubah paradigma dan status sosial wanita pada masa itu melalui kepandaiannya, sehingga wanita masa kini memiliki keleluasaan akses dalam mengenyam pendidikan supaya  menjadi kaum yang terhormat melalui kepandaian dan keluhuran budinya. Wanita masa kini yang mengemban amanah emansipasi, hendaknya meneruskan perjuangan R.A Kartini agar menjadi wanita yang anggun dan terhormat.
Perlu dipahami juga bahwa wanita memesona bukan hanya menjadi milik kaum terpelajar, akan tetapi milik mereka-mereka yang mau untuk belajar dari hidup dan terus maju. Wanita yang memesona juga bukan hanya milik mereka yang memiliki nilai tinggi dan gelar banyak, akan tetapi milik mereka yang pandai mengatasi segala hal, karena wanita memesona itu smart.
Wanita memesona itu;      

  • Berwawasan luas

Gb.2. Wanita memesona itu selalu belajar supaya berwawasan luas (source: dok. pribadi)

Wanita memesona itu berwawasan luas. Mereka mengerti apa yang diketahui orang, bahkan apapun yang tidak diketahui orang. Karena mereka tahu, untuk mengatasi beragam persoalan hidup ini mereka butuh banyak pandangan, butuh wawasan. Bagi mereka, belajar itu tidak ada kata ‘sudah’ atau ‘pernah’, karena mereka paham, bahwa kehidupan ini akan terus memunculkan tantangan-tantangan baru dan membuat mereka harus terus meng “upgrade” wawasannya. Kemudahan akses masa kini bagi wanita memesona akan dimanfaatkan untuk mencari informasi-informasi bermanfaat sehingga memperluas wawasannya. Mereka memancarkan pesona bagi banyak orang dengan kemanfaatan ilmunya.


  • Pandai mengatur waktu
Wanita yang memesona tidak akan membuat hidupnya berantakan. Mereka membuat jadwal dalam agendanya untuk bisa memaksimalkan segala kerjanya sehingga tidak membuat kekacauan dan mengecewakan orang lain. Mereka akan membagi waktu  untuk beribadah kepada Tuhan, bercengkrama dengan keluarganya, belajar, bergaul dengan kawan-kawannya, bekerja dengan giat, berdiskusi dan beramal di masyarakatnya, juga menjalankan tugas sebagai ibu, istri ataupun anak.

  •  Pandai menghormati orang lain
Wanita memesona itu selalu mengerti pentingya menghargai dan menghormati orang lain. Karena bagi mereka, siapapun dan bagimanapun orangnya berhak untuk dihargai. Wanita memesona menilai  bahwa pada dasarnya semua orang di dunia ini kedudukannya sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya terhadap Tuhan. Wanita memesona memahami pentingnya menjaga kehormatan orang lain, karena mereka tahu bahwa siapapun orangnya, selalu punya alasan saat melakukan sesuatu.

  •  Pandai berkomunikasi
Wanita memesona selalu tersenyum dan berbicara baik terhadap orang lain. Pandai berkomunikasi bukan berarti orang yang suka ceriwis membicarakan orang lain, juga tidak harus seperti penyiar radio yang pandai bicara tiada habisnya. Wanita yang memesona selau mempunyai gaya bicara yang mengenakkan didengar orang lain, mereka menjaga bicaranya dari nada bicara yang tinggi dan kasar, membicarakan hal-hal yang tidak berguna, apalagi membicarakan kejelekan orang lain. Mereka  bicara seperlunya, tetapi semua orang akan memperhatikannya karena pesona yang di pancarkan dari tutur kata dan gaya bicara yang baik.

  • Pandai menempatkan diri
Wanita memesona bisa mengukur dirinya, dengan tidak banyak bertanya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan di segala tempat, segala suasana dan segala hal. Mereka tahu bagaimana harus bersikap saat berkumpul dengan orang-orang yang lebih tua darinya, mereka juga mengerti gaya bercanda saat berkumpul dengan  kawan sebayanya, mereka mendadak menjadi ibu guru yang ramah, lemah lembut dan menginspirasi bagi anak-anak kecil, tetapi mereka tetap menjaga kewibawaanya, profesionalitas dan integritasnya saat berada di lingkungan kerja.

  • Pandai menyenangkan hati orang lain
Wanita memesona tidak banyak mengukur kesenangan dirinya, karena mereka sibuk menyenangkan hati orang lain. Bagi mereka, kesenangan orang lain menjadi prioritasnya. Mereka tidak sampai hati melihat orang lain menteskan air matanya.  Mereka peduli dengan kebahagiaan orang lain bukan karena kasihan, karena mereka pernah merasakan betapa tidak enaknya saat dilanda kesusahan. Mereka tidak ingin orang lain juga mendapatkan kesusahan sama seperti yang pernah dialaminya, sehingga selalu  memposisikan dirinya sebagai orang-orang seperti mereka yang dilanda kesusahan.

  • Pandai bersyukur
Wanita paling memesona sedunia adalah yang selalu menerima apa yang ada dalam dirinya. Mereka menjadi orang paling bahagia sedunia karena selalu bersyukur. Mereka percaya bahwa Tuhan selalu berpihak padanya dan memberikan yang terbaik padanya. Mereka belajar dari orang lain yang kekurangan. Mereka selalu melihat kebawah supaya bisa selalu bersyukur.

  •  Pandai mengurus diri
Wanita yang memesona paham bahwa kecantikan itu tidak hanya ditonjolkan dari kelebihan fisik semata, akan tetapi mereka perlu menjadi wanita yang anggun dengan rajin merawat dirinya, sehingga orang lain tidak akan malas berdekatan dengannya. Mereka juga mengerti, bahwa kehormatan diri juga ditampakkan dari bagaimana dia menjaga dan merawat tubuhnya.

      #MemesonaItu Smart








Wednesday, February 08, 2017

Penantian

Edit Posted by with No comments
Di reruntuhan hatiku,
masih kucari rapi-rapi selipan cintamu
Di samar kasihmu,
masih kucermati keinginanmu membersamaiku
Di jembatan jiwa kita,
terpaut kokoh perasaanku-perasaanmu

Gores-gores tinta mengabarkan,
lelah pena ini mengungkap rinduku padamu
Syair-syair keniscayaan yang terjuntai, mengantarku menuju gerbang hatimu, mengetuk cintamu
saat kau duduk di tepian jendela menantikan semilir angin yang membawa catatan penantianku

Deret-deret huruf dalam syair yang berloncatan
menyergapmu bersama deru sang bayu

Monday, February 06, 2017

Catatan Anak Kuliahan

Edit Posted by with No comments
Aku terus saja melaju mengikuti jalanan yang ramai, banyak toko sudah tlah kulewati, dan lebih dari lima lampu merah tlah kulalui. Tepat di lampu merah keenam aku hampir sampai. Kupelankan laju sepeda motorku. “Pagi mbak,” seorang tukang koran yang lusuh datang menghampiriku, aku hanya tersenyum memperhatikan lelaki yang kiranya seumuran denganku itu. Dia tak menawarkan korannya padaku, mungkin dia mengerti kalau kebutuhan mahasiswa bukan koran. Dan aku-pun tidak terlalu tertarik dengan permasalahan negara yang tiada habisnya. Bagiku mengerjakan laporan praktikum akan lebih berguna dibandingkan membuang-buang waktu dengan membaca koran. ‘tinnnnn’......’tinnnnn’ suara klakson bersahut-sahutan menyadarkan lamunanku. Lampu sudah berwarna hijau, dan aku bergegas menjalankan motorku.
“rena”, suara yag tak asing itu memanggil namaku. Aku memelankan langkah dan menengok  kebelakang. Kulihat radit, teman se-jurusan yang tergopoh-gopoh mengejarku. Sesampainya dia menjangkauku, dengan nafas masih terengah-engah
“Gimana laporanmu ren? Udah selese?,” Radit memberondongiku dengan pertanyaan yang membosankan. Aku hanya mengangguk karena malas menandukinya
“yakin laporanmu udah selese? Ahh.. aku pinjem dong,” Radit ternyata malah memperpanjang urusanku ini. Aku akhirnya tidak bisa mengelak, tapi untung saja laporanku kali ini memang benar-benar sudah selesai, jadi langsung saja kukasih laporan praktikum berlembar-lembar yang sudah susah payah kubuat.
Laporan praktikum menjadi makanan sehari-hari saat aku memutuskan berkuliah di jurusan sains. Dan bagiku jurusan itu sangant membosankan, entah suasana kelasnya yang garing, ato anak-anaknya yang gak keren, ato mungkin topik pembicaraan mereka yang menurutku itu sangat sempit. Namun kenyataannya aku menjadi orang-orang seperti mereka, membosankan, begitu-pun dengan hidupku yang membosankan. Seperti yang aku alami pagi ini, mungkin pagi-pagi setiap harinya, yang kulihat anak-anak yang kurang gizi dan kurang tidur, mata mereka berkantung tiap pagi hari, muka mereka kusut seperti orang paling sengsara di dunia. Dan penggambaran itu menjelaskan tentang keadaaanku juga yang sama menyedihkannya. Ingin rasanya aku pindah jurusan, tapi aku tak ingin menghancurkan impian ayahku. Pilihan ayahku kurasa bukan pilihan yang salah, aku hanya perlu waktu untuk bersabar menjalani proses.
Mahasiswa sepertiku pantas disebut mahasiswa yang sedang sekarat, karena masa-masaku di semester 5 ini merupakan masa kritis dimana tingkat kebosanan dan kemalasan berada pada titik puncak. Membuataku kadang kehilangan kendali, rasanya ingin nikah aja. Banyak kulihat teman-teman seangkatanku yang tidak kuat menjalani kebengisan di semester 5 ini, dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Aku-pun ingin melakukan hal yang sama, hanya saja terganjal masalah klasik yang biasa dialami oleh para jomblowati sejati, yaitu pasangan. Bagi orang secantik dan secerdas diriku, mendapatkan pasangan adalah sesuatu yang sulit. Sehingga sudah sedewasa ini usiaku 20 tahun, masih aja menjomblo. Dan status itu meskipun dalam agama adalah mulia, namun banyak orang-orang yang tidak memahaminya sehingga status jomblo merupakan status yang hina. Dan itulah yang kualami sehari-hari, diledekin sebagai jomblo. Terkadang aku ingin protes dengan Tuhan, karena cukup memalukan memang jika di KTP statusku tertulis jomblo.
“Renaaaaaa!!! Apa-apaan ini? Kau memberiku laporan kimia, sekarang kan tidak ada laporan kimia, yang kubutuhkan laporan fisika,” Radit meneriaki telingaku, membuatku tersadar dari lamunan dan terkaget2.
 “ada apa kau ini?, hanya masalah sepele kau tak perlu teriak-teriak,” aku ikut meneriaki kupingnya.
“ apa? Hanya laporan fisika? Gampang..... apa kau perlu yang lain?,” lanjutku sambil merogoh apa yang ada di dalam tasku. Tapi tunggu dulu, kurasa ada yang aneh.
 “Radittt!!! Laporan fisikaku ketinggalan!!!” aku benar-benar panik.
 “Innalillah, bagaimana bisa? Terus nanti kamu gimana ren?,” ucap Radit dan membuatku tambah panik.
Aku berputar-putar, tidak tau apa yang harus kulakukan. Untuk pulang ke rumah aku membutuhkan waktu 45 menit, itu artinya untuk bisa kembali lagi kesini aku membutuhkan waktu 90 menit.
“Ren, ada yang mencarimu di luar...,” Dewi yang barusan masuk kelas membuatku tambah tak karuan.
“Siapa yang mencariku, sepanjang perjalanan hidupku aku tidak pernah dicariin oleh seseorang”. Aku melangkah keluar kelas dengan penuh tanda tanya, tampak seorang lelaki yang menurutku standar sedang berdiri gelisah.
“mas mencari saya?,” tanyaku dengan penuh kehati-hatian.
 “ mbak yang namanya Rena ya?,” lelaki itu malah balik tanya.
“iya saya, ada apa ya mas?,”
 “ini mbak, tadi bukunya ketinggalan,” lelaki itu menyodorkan laporan fisikaku. Hatiku jingkrak-jingkrak nggak karuan, ternyata Tuhan masih peduli padaku.
 “Iya, bener mas ini punya saya, wah mas nemu diman.....?, pertanyaan itu terhenti begitu saja, saat kuperhatikan orang yang tepat berada di depanku. ‘aku seperti sangat menegenal orang ini’,

(apa lagi ya yang mau ditulis????)