Monday, February 06, 2017

Catatan Anak Kuliahan

Edit Posted by with No comments
Aku terus saja melaju mengikuti jalanan yang ramai, banyak toko sudah tlah kulewati, dan lebih dari lima lampu merah tlah kulalui. Tepat di lampu merah keenam aku hampir sampai. Kupelankan laju sepeda motorku. “Pagi mbak,” seorang tukang koran yang lusuh datang menghampiriku, aku hanya tersenyum memperhatikan lelaki yang kiranya seumuran denganku itu. Dia tak menawarkan korannya padaku, mungkin dia mengerti kalau kebutuhan mahasiswa bukan koran. Dan aku-pun tidak terlalu tertarik dengan permasalahan negara yang tiada habisnya. Bagiku mengerjakan laporan praktikum akan lebih berguna dibandingkan membuang-buang waktu dengan membaca koran. ‘tinnnnn’......’tinnnnn’ suara klakson bersahut-sahutan menyadarkan lamunanku. Lampu sudah berwarna hijau, dan aku bergegas menjalankan motorku.
“rena”, suara yag tak asing itu memanggil namaku. Aku memelankan langkah dan menengok  kebelakang. Kulihat radit, teman se-jurusan yang tergopoh-gopoh mengejarku. Sesampainya dia menjangkauku, dengan nafas masih terengah-engah
“Gimana laporanmu ren? Udah selese?,” Radit memberondongiku dengan pertanyaan yang membosankan. Aku hanya mengangguk karena malas menandukinya
“yakin laporanmu udah selese? Ahh.. aku pinjem dong,” Radit ternyata malah memperpanjang urusanku ini. Aku akhirnya tidak bisa mengelak, tapi untung saja laporanku kali ini memang benar-benar sudah selesai, jadi langsung saja kukasih laporan praktikum berlembar-lembar yang sudah susah payah kubuat.
Laporan praktikum menjadi makanan sehari-hari saat aku memutuskan berkuliah di jurusan sains. Dan bagiku jurusan itu sangant membosankan, entah suasana kelasnya yang garing, ato anak-anaknya yang gak keren, ato mungkin topik pembicaraan mereka yang menurutku itu sangat sempit. Namun kenyataannya aku menjadi orang-orang seperti mereka, membosankan, begitu-pun dengan hidupku yang membosankan. Seperti yang aku alami pagi ini, mungkin pagi-pagi setiap harinya, yang kulihat anak-anak yang kurang gizi dan kurang tidur, mata mereka berkantung tiap pagi hari, muka mereka kusut seperti orang paling sengsara di dunia. Dan penggambaran itu menjelaskan tentang keadaaanku juga yang sama menyedihkannya. Ingin rasanya aku pindah jurusan, tapi aku tak ingin menghancurkan impian ayahku. Pilihan ayahku kurasa bukan pilihan yang salah, aku hanya perlu waktu untuk bersabar menjalani proses.
Mahasiswa sepertiku pantas disebut mahasiswa yang sedang sekarat, karena masa-masaku di semester 5 ini merupakan masa kritis dimana tingkat kebosanan dan kemalasan berada pada titik puncak. Membuataku kadang kehilangan kendali, rasanya ingin nikah aja. Banyak kulihat teman-teman seangkatanku yang tidak kuat menjalani kebengisan di semester 5 ini, dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Aku-pun ingin melakukan hal yang sama, hanya saja terganjal masalah klasik yang biasa dialami oleh para jomblowati sejati, yaitu pasangan. Bagi orang secantik dan secerdas diriku, mendapatkan pasangan adalah sesuatu yang sulit. Sehingga sudah sedewasa ini usiaku 20 tahun, masih aja menjomblo. Dan status itu meskipun dalam agama adalah mulia, namun banyak orang-orang yang tidak memahaminya sehingga status jomblo merupakan status yang hina. Dan itulah yang kualami sehari-hari, diledekin sebagai jomblo. Terkadang aku ingin protes dengan Tuhan, karena cukup memalukan memang jika di KTP statusku tertulis jomblo.
“Renaaaaaa!!! Apa-apaan ini? Kau memberiku laporan kimia, sekarang kan tidak ada laporan kimia, yang kubutuhkan laporan fisika,” Radit meneriaki telingaku, membuatku tersadar dari lamunan dan terkaget2.
 “ada apa kau ini?, hanya masalah sepele kau tak perlu teriak-teriak,” aku ikut meneriaki kupingnya.
“ apa? Hanya laporan fisika? Gampang..... apa kau perlu yang lain?,” lanjutku sambil merogoh apa yang ada di dalam tasku. Tapi tunggu dulu, kurasa ada yang aneh.
 “Radittt!!! Laporan fisikaku ketinggalan!!!” aku benar-benar panik.
 “Innalillah, bagaimana bisa? Terus nanti kamu gimana ren?,” ucap Radit dan membuatku tambah panik.
Aku berputar-putar, tidak tau apa yang harus kulakukan. Untuk pulang ke rumah aku membutuhkan waktu 45 menit, itu artinya untuk bisa kembali lagi kesini aku membutuhkan waktu 90 menit.
“Ren, ada yang mencarimu di luar...,” Dewi yang barusan masuk kelas membuatku tambah tak karuan.
“Siapa yang mencariku, sepanjang perjalanan hidupku aku tidak pernah dicariin oleh seseorang”. Aku melangkah keluar kelas dengan penuh tanda tanya, tampak seorang lelaki yang menurutku standar sedang berdiri gelisah.
“mas mencari saya?,” tanyaku dengan penuh kehati-hatian.
 “ mbak yang namanya Rena ya?,” lelaki itu malah balik tanya.
“iya saya, ada apa ya mas?,”
 “ini mbak, tadi bukunya ketinggalan,” lelaki itu menyodorkan laporan fisikaku. Hatiku jingkrak-jingkrak nggak karuan, ternyata Tuhan masih peduli padaku.
 “Iya, bener mas ini punya saya, wah mas nemu diman.....?, pertanyaan itu terhenti begitu saja, saat kuperhatikan orang yang tepat berada di depanku. ‘aku seperti sangat menegenal orang ini’,

(apa lagi ya yang mau ditulis????)

0 comments:

Post a Comment