Aku
terus saja melaju mengikuti jalanan yang ramai, banyak toko sudah tlah
kulewati, dan lebih dari lima lampu merah tlah kulalui. Tepat di lampu merah
keenam aku hampir sampai. Kupelankan laju sepeda motorku. “Pagi mbak,” seorang
tukang koran yang lusuh datang menghampiriku, aku hanya tersenyum memperhatikan
lelaki yang kiranya seumuran denganku itu. Dia tak menawarkan korannya padaku,
mungkin dia mengerti kalau kebutuhan mahasiswa bukan koran. Dan aku-pun tidak
terlalu tertarik dengan permasalahan negara yang tiada habisnya. Bagiku
mengerjakan laporan praktikum akan lebih berguna dibandingkan membuang-buang
waktu dengan membaca koran. ‘tinnnnn’......’tinnnnn’ suara klakson
bersahut-sahutan menyadarkan lamunanku. Lampu sudah berwarna hijau, dan aku
bergegas menjalankan motorku.
“rena”,
suara yag tak asing itu memanggil namaku. Aku memelankan langkah dan
menengok kebelakang. Kulihat radit,
teman se-jurusan yang tergopoh-gopoh mengejarku. Sesampainya dia menjangkauku,
dengan nafas masih terengah-engah
“Gimana
laporanmu ren? Udah selese?,” Radit memberondongiku dengan pertanyaan yang
membosankan. Aku hanya mengangguk karena malas menandukinya
“yakin
laporanmu udah selese? Ahh.. aku pinjem dong,” Radit ternyata malah
memperpanjang urusanku ini. Aku akhirnya tidak bisa mengelak, tapi untung saja
laporanku kali ini memang benar-benar sudah selesai, jadi langsung saja kukasih
laporan praktikum berlembar-lembar yang sudah susah payah kubuat.
Laporan
praktikum menjadi makanan sehari-hari saat aku memutuskan berkuliah di jurusan
sains. Dan bagiku jurusan itu sangant membosankan, entah suasana kelasnya yang
garing, ato anak-anaknya yang gak keren, ato mungkin topik pembicaraan mereka
yang menurutku itu sangat sempit. Namun kenyataannya aku menjadi orang-orang
seperti mereka, membosankan, begitu-pun dengan hidupku yang membosankan.
Seperti yang aku alami pagi ini, mungkin pagi-pagi setiap harinya, yang kulihat
anak-anak yang kurang gizi dan kurang tidur, mata mereka berkantung tiap pagi
hari, muka mereka kusut seperti orang paling sengsara di dunia. Dan
penggambaran itu menjelaskan tentang keadaaanku juga yang sama menyedihkannya.
Ingin rasanya aku pindah jurusan, tapi aku tak ingin menghancurkan impian
ayahku. Pilihan ayahku kurasa bukan pilihan yang salah, aku hanya perlu waktu
untuk bersabar menjalani proses.
Mahasiswa
sepertiku pantas disebut mahasiswa yang sedang sekarat, karena masa-masaku di
semester 5 ini merupakan masa kritis dimana tingkat kebosanan dan kemalasan
berada pada titik puncak. Membuataku kadang kehilangan kendali, rasanya ingin
nikah aja. Banyak kulihat teman-teman seangkatanku yang tidak kuat menjalani
kebengisan di semester 5 ini, dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Aku-pun
ingin melakukan hal yang sama, hanya saja terganjal masalah klasik yang biasa
dialami oleh para jomblowati sejati, yaitu pasangan. Bagi orang secantik dan
secerdas diriku, mendapatkan pasangan adalah sesuatu yang sulit. Sehingga sudah
sedewasa ini usiaku 20 tahun, masih aja menjomblo. Dan status itu meskipun
dalam agama adalah mulia, namun banyak orang-orang yang tidak memahaminya
sehingga status jomblo merupakan status yang hina. Dan itulah yang kualami
sehari-hari, diledekin sebagai jomblo. Terkadang aku ingin protes dengan Tuhan,
karena cukup memalukan memang jika di KTP statusku tertulis jomblo.
“Renaaaaaa!!!
Apa-apaan ini? Kau memberiku laporan kimia, sekarang kan tidak ada laporan
kimia, yang kubutuhkan laporan fisika,” Radit meneriaki telingaku, membuatku
tersadar dari lamunan dan terkaget2.
“ada apa kau ini?, hanya masalah sepele kau
tak perlu teriak-teriak,” aku ikut meneriaki kupingnya.
“
apa? Hanya laporan fisika? Gampang..... apa kau perlu yang lain?,” lanjutku
sambil merogoh apa yang ada di dalam tasku. Tapi tunggu dulu, kurasa ada yang
aneh.
“Radittt!!! Laporan fisikaku ketinggalan!!!”
aku benar-benar panik.
“Innalillah, bagaimana bisa? Terus nanti kamu
gimana ren?,” ucap Radit dan membuatku tambah panik.
Aku
berputar-putar, tidak tau apa yang harus kulakukan. Untuk pulang ke rumah aku
membutuhkan waktu 45 menit, itu artinya untuk bisa kembali lagi kesini aku
membutuhkan waktu 90 menit.
“Ren,
ada yang mencarimu di luar...,” Dewi yang barusan masuk kelas membuatku tambah
tak karuan.
“Siapa yang mencariku, sepanjang
perjalanan hidupku aku tidak pernah dicariin oleh seseorang”. Aku
melangkah keluar kelas dengan penuh tanda tanya, tampak seorang lelaki yang
menurutku standar sedang berdiri gelisah.
“mas
mencari saya?,” tanyaku dengan penuh kehati-hatian.
“ mbak yang namanya Rena ya?,” lelaki itu
malah balik tanya.
“iya
saya, ada apa ya mas?,”
“ini mbak, tadi bukunya ketinggalan,” lelaki
itu menyodorkan laporan fisikaku. Hatiku jingkrak-jingkrak nggak karuan,
ternyata Tuhan masih peduli padaku.
“Iya, bener mas ini punya saya, wah mas nemu
diman.....?, pertanyaan itu terhenti begitu saja, saat kuperhatikan orang yang
tepat berada di depanku. ‘aku seperti sangat menegenal orang ini’,
(apa
lagi ya yang mau ditulis????)

0 comments:
Post a Comment