Wednesday, October 19, 2016

Kukayuh Sepedaku

Edit Posted by with No comments
Kukayuh Sepedaku
Oleh: Nida'ul Khasanah
             Hari ini ada informasi penting di sekolah SMP-ku, banyak kejadian lampu dan dinamo sepeda onthel pada hilang. Masih untung sepedaku gak ada lampunya, sehingga saat pulang sekolah-pun aku rasa sepedaku baik-baik saja pada hari itu. Dengan santainya kusalip kawan-kawanku yang berjejalan di jalanan, sambil kujulurkan lidah tanda mengejek. Tapi tak kusangka "gubrakkk...." keranjang sepedaku ternyata sekrupnya lepas sehingga 'protol' di jalan. Tas sekolah yang tadinya nangkring manis ikut terjatuh berikut barang-barang di dalamnya, walhasil ada dompet bergambar tengkorak, permen,poster upin-ipin, dan obeng tumpah ruah di jalanan. Teman-temanku pada tertawa cekikikan sambil berebutan memunguti barang-barang itu, aku hanya termenung pasrah dan terpana melihat pemandangan tersebut sambil berpikir cemas, "nih barang pasti mau diloakin sama temen-temenku." Tiba-tiba saja ada cewek cakep yang datang menyelamatkanku..(eh, bukan, maksudnya keranjang sepedaku), ia membubarkan acara dadakan tersebut kemudian membantu(keranjang sepeda)ku bangun dan mengikat dengan tali rafia yang barusan diambilnya dari tempat sampah dekat TKP.
"Makasih ya..," sapaku kemudian pada bidadari surga yang telah menyelamatkanku dari rasa malu.
"Sama-sama, aku cuman kasian aja liat nih sepeda kayaknya udah menderita banget, makanya aku bantuin, karena aku ini orangnya gak tegaan dan berperikesepedaan," cewek itu menyahut tanpa dosa.
Asemmm, pengen rasanya aku ngegigit pedal sepedaku. Tapi sayang pedal sepedaku tinggal yang bagian besinya, sedangkan karet yang melapisinya udah lepas dan entah kemana, Aku gak mau mati sia-sia dengan menggigit pedal besi itu. Ya,, aku sadar diri kalau ternyata sepedaku seperti habis ketimpa gempa yang penyok sana, penyok sini. Maklum, sepeda see.kend belinya di tukang las-lasan.
             Daripada tambah setress, akhirnya aku segera kabur dan pulang. Sebenarnya aku sangat menyayangkan dengan ketidakwarasan cewek cantik itu. 'Dia terlalu manis kali yak, sehingga bosen diperhatiin sama cowok-cowok terus, kemudian pelariannya jadi pemerhati sepeda. Kayaknya sih, pemikiranku kali ini cukup benerr,' begitulah kira-kira isi pikiran oon-ku sambil terus mengayuh sepeda.
            Esok harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Sepedaku?, normal-normal aja sih, hanya kali ini ia tampil beda, lebih macho-lah pokoknya. Karena keranjang sepeda yang kemarin bermasalah sudah aku copot, sehingga kesan feminisnya sudah berkurang, bahkan namanya kuganti dari 'Srini' jadi 'Sriti'(kok kayak nama burung ya?). Meskipun begitu, Sriti gak seutuhnya telah bermetamorfosa,,, intinya secara keseluruhan, ia adalah sepeda dengan model wanita tanpa keranjang, sadel sama setang tinggian sadelnya dengan warna biru laut asli cat tembok, dan slebor besi di roda belakang yang gak simetris sehingga sekrupnya gak nyangkut dan menimbulkan bunyi seperti mesin penggilingan keliling. Yah..aku pikir saat ini sepeda miniku sudah tidak terlalu mewakili feminisme. Asli, selama ini aku merasa sangat malu menggunakan sepeda berkeranjang seperti ini, soalnya jadi menghilangkan kesan kejantananku sebagai cowok ganteng. Tapi, apa boleh buat, sepeda warisan orangtuaku cumane
 ini.
            Sepulang sekolah ternyata sepedaku bermasalah, setelah ban sepeda aku pencet-pencet ternyata sangat kempes, dan aku berpikiran bahwa ban sepedaku ini bocor, soalnya tadi pagi memang nggak bermasalah. Terpaksa deh aku harus nuntun nih sepeda sampai rumah sejauh 3 km.
"Kenapa sepedanya kok dituntun kayak gitu," cewek cantik yang kemarin menyelamatkan hidup sepedaku tiba-tiba sudah berada di sampingku.
"Apa sih, kamu ni? Kepo aja!," jawabku benci.
"Ohh..jangan-jangan kamu sudah sadar ya, dengan kamu menunggangi sepeda, itu artinya kamu tidak berperikesepedaan," ucap perempuan itu.
" Kalo kamu mau macem-macem sama sepedaku, awass!!! Sekarang juga kamu gak usah deket-deket aku," aku ebenar-benar geram.
"Kamu aja yang kePeDean, orang aku cuman mau deket-deket sepedamu, bukan kamunya," kali ini cewek itu mulai kecentilan dengan sepeda bututku ini. Aku mulai habis kesabaran, dan mengambil kerikil buat nimpuk. Tapi ternyata gak jadi, karena sebelum tak timpuk, dia udah lari duluan.
            Dengan sabar aku masih menuntun 'Sriti' hingga habis perkampungan yang aku lewati dan memasuki kawasan pesawahan dan bekas rel kereta api. Sesampainya di tanjakan turun yang sangat menukik aku berhenti, bulu kudukku berdiri, bukan karena aku takut menukik dari jalanan setapak setinggi 7 meter itu. Aku hanya teringat dengan hantu penunggu tempat itu seperti yang banyak diceritakan orang-orang. Aku berharap akan ada satu manusia yang menemaniku di tempat seram seperti ini. Tapi ternyata tidak, suasana malah semakin sepi, dan akhirnya dengan segenap rasa ketakutan kutunggangi sepedaku dan meluncur dari ketinggian tersebut sambil kukayuh sekuat-kuatnya sampai aku lupa kalau ban sepedaku bocor. Aku baru sadar ketika sepeda yang kutunggangi berbunyi glodak, glodak dan pantatku sakit sekali terpental-pental ke udara. Pada akhirnya aku menuntun sepedaku lagi, tapi Alhamdulillah aku sampai rumah dengan selamat.

            Setelah dicek oleh ayahku, ternyata ban sepedaku kempes, tidak bocor. Aku hanya mengelus dada, tahu gitu tadi aku pompain aja sepedanya di sekolah dan gak perlu capek-capek nuntun. "Dasar!!!, pasti yang ngelakuin ini semua pasti anak-anak berandal sekolahku," gerutuku sambil nggigit Baygon.

0 comments:

Post a Comment