Kukayuh Sepedaku
Oleh: Nida'ul Khasanah
Hari ini ada informasi penting di sekolah
SMP-ku, banyak kejadian lampu dan dinamo sepeda onthel pada hilang. Masih
untung sepedaku gak ada lampunya, sehingga saat pulang sekolah-pun aku rasa
sepedaku baik-baik saja pada hari itu. Dengan santainya kusalip kawan-kawanku
yang berjejalan di jalanan, sambil kujulurkan lidah tanda mengejek. Tapi tak
kusangka "gubrakkk...." keranjang sepedaku ternyata sekrupnya lepas
sehingga 'protol' di jalan. Tas sekolah yang tadinya nangkring manis ikut
terjatuh berikut barang-barang di dalamnya, walhasil ada dompet bergambar
tengkorak, permen,poster upin-ipin, dan obeng tumpah ruah di jalanan.
Teman-temanku pada tertawa cekikikan sambil berebutan memunguti barang-barang
itu, aku hanya termenung pasrah dan terpana melihat pemandangan tersebut sambil
berpikir cemas, "nih barang pasti mau diloakin sama temen-temenku."
Tiba-tiba saja ada cewek cakep yang datang menyelamatkanku..(eh, bukan,
maksudnya keranjang sepedaku), ia membubarkan acara dadakan tersebut kemudian
membantu(keranjang sepeda)ku bangun dan mengikat dengan tali rafia yang barusan
diambilnya dari tempat sampah dekat TKP.
"Makasih ya..," sapaku kemudian pada
bidadari surga yang telah menyelamatkanku dari rasa malu.
"Sama-sama, aku cuman kasian aja liat nih sepeda
kayaknya udah menderita banget, makanya aku bantuin, karena aku ini orangnya
gak tegaan dan berperikesepedaan," cewek itu menyahut tanpa dosa.
Asemmm, pengen rasanya aku ngegigit pedal sepedaku.
Tapi sayang pedal sepedaku tinggal yang bagian besinya, sedangkan karet yang
melapisinya udah lepas dan entah kemana, Aku gak mau mati sia-sia dengan
menggigit pedal besi itu. Ya,, aku sadar diri kalau ternyata sepedaku seperti habis
ketimpa gempa yang penyok sana, penyok sini. Maklum, sepeda see.kend belinya di
tukang las-lasan.
Daripada tambah setress, akhirnya aku segera
kabur dan pulang. Sebenarnya aku sangat menyayangkan dengan ketidakwarasan
cewek cantik itu. 'Dia terlalu manis kali yak, sehingga bosen diperhatiin sama cowok-cowok
terus, kemudian pelariannya jadi pemerhati sepeda. Kayaknya sih, pemikiranku
kali ini cukup benerr,' begitulah kira-kira isi pikiran oon-ku sambil terus
mengayuh sepeda.
Esok
harinya aku berangkat sekolah seperti biasa. Sepedaku?, normal-normal aja sih,
hanya kali ini ia tampil beda, lebih macho-lah pokoknya. Karena keranjang
sepeda yang kemarin bermasalah sudah aku copot, sehingga kesan feminisnya sudah
berkurang, bahkan namanya kuganti dari 'Srini' jadi 'Sriti'(kok kayak nama
burung ya?). Meskipun begitu, Sriti gak seutuhnya telah bermetamorfosa,,,
intinya secara keseluruhan, ia adalah sepeda dengan model wanita tanpa
keranjang, sadel sama setang tinggian sadelnya dengan warna biru laut asli cat
tembok, dan slebor besi di roda belakang yang gak simetris sehingga sekrupnya
gak nyangkut dan menimbulkan bunyi seperti mesin penggilingan keliling. Yah..aku
pikir saat ini sepeda miniku sudah tidak terlalu mewakili feminisme. Asli,
selama ini aku merasa sangat malu menggunakan sepeda berkeranjang seperti ini, soalnya
jadi menghilangkan kesan kejantananku sebagai cowok ganteng. Tapi, apa boleh
buat, sepeda warisan orangtuaku cumane
ini.
Sepulang
sekolah ternyata sepedaku bermasalah, setelah ban sepeda aku pencet-pencet
ternyata sangat kempes, dan aku berpikiran bahwa ban sepedaku ini bocor,
soalnya tadi pagi memang nggak bermasalah. Terpaksa deh aku harus nuntun nih
sepeda sampai rumah sejauh 3 km.
"Kenapa sepedanya kok dituntun kayak gitu,"
cewek cantik yang kemarin menyelamatkan hidup sepedaku tiba-tiba sudah berada
di sampingku.
"Apa sih, kamu ni? Kepo aja!," jawabku
benci.
"Ohh..jangan-jangan kamu sudah sadar ya, dengan
kamu menunggangi sepeda, itu artinya kamu tidak berperikesepedaan," ucap perempuan
itu.
" Kalo kamu mau macem-macem sama sepedaku, awass!!!
Sekarang juga kamu gak usah deket-deket aku," aku ebenar-benar geram.
"Kamu aja yang kePeDean, orang aku cuman mau
deket-deket sepedamu, bukan kamunya," kali ini cewek itu mulai kecentilan
dengan sepeda bututku ini. Aku mulai habis kesabaran, dan mengambil kerikil
buat nimpuk. Tapi ternyata gak jadi, karena sebelum tak timpuk, dia udah lari
duluan.
Dengan
sabar aku masih menuntun 'Sriti' hingga habis perkampungan yang aku lewati dan
memasuki kawasan pesawahan dan bekas rel kereta api. Sesampainya di tanjakan
turun yang sangat menukik aku berhenti, bulu kudukku berdiri, bukan karena aku
takut menukik dari jalanan setapak setinggi 7 meter itu. Aku hanya teringat
dengan hantu penunggu tempat itu seperti yang banyak diceritakan orang-orang.
Aku berharap akan ada satu manusia yang menemaniku di tempat seram seperti ini.
Tapi ternyata tidak, suasana malah semakin sepi, dan akhirnya dengan segenap
rasa ketakutan kutunggangi sepedaku dan meluncur dari ketinggian tersebut
sambil kukayuh sekuat-kuatnya sampai aku lupa kalau ban sepedaku bocor. Aku
baru sadar ketika sepeda yang kutunggangi berbunyi glodak, glodak dan pantatku
sakit sekali terpental-pental ke udara. Pada akhirnya aku menuntun sepedaku
lagi, tapi Alhamdulillah aku sampai rumah dengan selamat.
Setelah
dicek oleh ayahku, ternyata ban sepedaku kempes, tidak bocor. Aku hanya
mengelus dada, tahu gitu tadi aku pompain aja sepedanya di sekolah dan gak
perlu capek-capek nuntun. "Dasar!!!, pasti yang ngelakuin ini semua pasti
anak-anak berandal sekolahku," gerutuku sambil nggigit Baygon.

0 comments:
Post a Comment