Mengejar Cinta
Oleh: Nida'ul Khasanah
Menjadi lelaki seperti gue
adalah orang yang beruntung, bukan karena gue ini seorang pangeran dari kerajaan
Inggris yang cukup rupawan, melainkan karena gue dilahirkan dari seorang ibu
yang selalu sabar menghadapi ketidakwarasan gue. Pernah suatu waktu gue tanya ke
Ibu gue, "buk, ibuk nyesel gak sih punya anak kaya saya?".
"Ibu gak pernah
nyesel Mat, apapun kamu dan bagaimanapun, kamu adalah tetap anak ibu,"
jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar jawaban
ibu, gue jadi ikut terharu, lebih tepatnya menyesal karena gue sering minjem
krim pelembap punya ibu gue tanpa ijin buat nglembapin mata gue biar gak
kepanasan terus ngeliat cewek-cewek yang hot. Maklum, mata gue ini agak keranjang,
soalnya sudah 17 tahun masih betah aja ngejomblo. Bukannya betah sih, emang
belum ada yang cocok. Tapi belakangan ini gue mulai cocok dengan cewek yang
namanya Sitimah, maksud gue bukan timah yang merupakan material tambang itu lho.
Timah yang ini geulis pisan, pinter lagi. Sebenarnya, nama lengkapnya adalah
Siti Mahmudah, berhubung di kelas gue yang namanya Siti banyak banget, makanya gue kalo manggil para Siti
tersebut tak singkat-singkat biar kalau dipanggil nggak nengok semua. Ada yang
namanya Siti Chotijah gue panggil Siticot, ada yang namanya Siti jahrowi, gue
panggil siTijah dan ada yang namanya Siti Kuzaimah, mau gak mau gue bakal
panggil dia siTikus. Ahh..bodo amat lah, yang penting siTimah adalah alasan
yang selalu membuat gue semangat '45 untuk ngangkot ke sekolah yang jauhnya 20
km.
Seperti hari ini, pagi-pagi
sekali gue sudah rapi mau berangkat, "Pamit dulu ya buk, Assalamualaikum,"
ujarku sambil mencium tangan ibu. "Waalaikumsalam, ati-ati ya le. Jangan lupa
bekal telo godhognya nanti dimakan," pesan ibu ketika gue mulai melangkahkan
kaki ini. Gue hanya mengangguk dan tersenyum. Kunaiki angkot yang masih sepi
pagi itu, kulihat hanya ada nenek-nenek tua yang tampak mecucu mengunyah daun
sirih, tapi tak gue sangka nenek itu bersin dan dihadapkan kearah gue yang tak
berdosa apa-apa, "crottt", kapur sirih yang ada dimulutnya menyembur
tak keruan. Untung hanya mengena tangan gue, tapi tetap saja jijayy. "Sori
le, sori le", nenek itu meminta maaf tanpa rasa bersalah. Gue hanya terpaku
merenungi nasib malang ini. "Sini, biar saya bantu bersihkan", ternyata
di bangku belakang ada seorang gadis cantik yang mencoba membantu gue
membersihkan kotoran ini dengan saputangannya. Gue menatapnya terpana, untuk
sekian lama gue hanya melongo hingga ada lalat masuk yang kemudian menyadarkan
gue. Kukucek-kucek mataku, ternyata gak ada siapa-siapa(efek jomblo kelamaan,
jadi suka ngayal yang nggak-nggak) dan kotoran di tangan dari nenek itu masih
menempel, mau tak mau gue bersihin sendiri kotoran itu.
"Bang, kiri,
bang," gue menyetop supir angkot ketika sampai di sekolahan gue.
Sampai di sekolah gue langsung
berdiri nangkring di gerbang sekolah untuk menunggui pujaan hati gue siTimah.
Tak berselang lama, ia muncul diantar bokapnya.
"Ehh, neng
geulis, makin cerah aja pagi ini seperti mentari yang menyinari," sapa gue
pada siTimah yang baru saja turun dari mobilnya.
"Apaan sih
lo, brisikk aja tau. Lagian nama gue bukan gelas," balas siTimah sewot.
Cantik-cantik, ternyata
budek juga ya siTimah, ato perasaan gua aja kali yak??, ahh bodo amat
"Bukan gelas
neng, tapi gelis. Daripada saya panggil eneng dengan panggilan sit, mah, mud, dah
ato malah mahmud, kan mending saya panggil eneng gelis, nona cantik," ucapku
dengan tampang bloon, sok merayu.
"Hhehh, siapa
yang panggil-panggil nama saya tadi?, nggak sopan. Kamu ya?, kurang ajar,"
ternyata bapaknya siTimah belum pergi, dia membuka kaca mobilnya sambil
mengacungkan telunjuknya ke arah gue.
"Kenapa om?,
kenalkan saya Rahmad, calon mantunya bapak," berhubung otak gue sedang
rada korslet, gue malah tersenyum manis sambil menyalami calon besan gue.
"Mahmudah,
siapa wong sinting ini?" Bapaknya Mahmudah kayaknya makin gemes sama gue,
soalnya dia ngremes-ngremes kaca mobil dan mukanya merah padam.
"Dia Mamat
pak, temen sekelas saya," jawab siTimah sambil nahan kepalan tangannya
buat nonjokin gue.
"Ya sudah
sana, lekas masuk kelas, gak usah gubris wong edan ini?", ucap bapaknya
siTimah sambil menunjuk gue sekali lagi.
Akhirnya gue menyadari yang
sedang terjadi. Usut punya usut, bapaknya siTimah ternyata namanya Mahmud. Tapi
kepalang basah, gue sudah mengawali kesan buruk terhadap calon mertua gue. Gak
papalah, meskipun gue gak bisa ngrebut hatinya Bapak Mertua, yang penting gue
bisa mencuri hatinya siTimah, cewek idaman gue. Dengan tanpa patah semangat, gue
kejar bidadari gue yang dari tadi udah nylonong aja ninggalin gue. Akhirnya gue
bisa mengejarnya setelah lari sprint dengan memperhitungkan gaya gravitasi bumi.
Saat hampir gue raih tangannya, ternyata ada sampah plastik bekas tempat siomay
yang membuat gue sukses tergelincir, "gedubrakkk!!!," walhasil, bibir
gue kejedot lantai semen kasar yang membuatnya jadi tambah seksi. Banyak anak-anak
yang kemudian berlarian ngerubutin gue. Dalam hati gue sih seneng-seneng aja,
karena meskipun muka gue minimalis, tetep aja pada ngerubutin dan gue mendadak
hits. Gue kira cewek-cewek cakep yang ngelilingin gue bakal nolongin, tapi ternyata
mereka cuman ingin nertawain gue keras-keras. Gue memukul-mukul lantai dan menangis
sejadi-jadinya. Sampai ternyata ada tangan menjulur yang memberikan
pertolongan, dan akhirnya kuraih tangan itu, yang tak lain adalah tangan
siTimah, pujaan hati gue.
"Makasih ya,
udah mau nolongin gue," ujarku sesaat setelah gue bangun dan berdiri
tegak.
"Hehem.. tapi
kayaknya lo harus ke UKS deh, bibirmu berdarah," timpal siTimah sambil
menunjuk bibir gue.
"Ahh,, iya..aduhh
sakit..sakit," gue berpura-pura mengaduh kesakitan sambil mengipasi bibir.
Berhubung siTimah adalah anak
PMR, maka diapun mengobati sendiri bibir gue dengan cekatan. Karena saking
terpesonanya gue dengan kelembutan wajahnya saat mengobati gue, sakit di bibir
gue-pun udah gak kerasa lagi. Gue bisa memperhatikan wajahnya dekat sekali, "Ternyata
wanita ini Subhanalloh cantiknya", pikirku.
"Sudah
selesai," ucapan siTimah membuyarkan lamunan gue.
"Oh..eh,"
ucap gue agak grogi
"Berhubung
sudah selesai, gue duluan ya," siTimah buru-buru mengemasi kotak P3K
"Sebentar Mahmudah,
tunggu!," gue meraih tangannya dan mencoba menahannya.
"Mahmudah??,
kenapa lo panggil gue dengan nama ini, panggilan yang sangat gue sukai,"
dia keheranan
"Hehe, sebenernya
gue..gue,emm..pengen kasih ini ke elo sebagai tanda terima kasih udah nolongin
gue," ucap gue grogi karena takut bungkusan bekal yang kujulurkan padanya
bakalan ditolak mentah-mentah.
"Gue sadar,
mungkin ini sangat nggak berkelas dibandingin makanan yang sering elo makan,
tapi gue cuman bisa ngasih ini," lanjutku agak melow.
"Berhubung lo
udah panggil gue Mahmudah, bukan siTimah lagi, gue terima deh hadiah dari lo.
Lo kira gue gak suka apa sama ketela rebus, suka banget tau..," jawab
Mahmudah dengan muka berseri-seri.
Alhasil hati gue
jingkrak-jingkrak gak karuan mendengar kepolosan Mahmudah.
****************
Hari ini, gue
pulang sore banget, soalnya ada ekstra olimpiade. Somplak...somplak gini, gue wakil
sekolah di olimpiade bidang biologi tingkat nasional. Gue segera buru-buru
menuju tempat menunggu bus yang membawa gue ke rumah idaman. Tetapi sampai gerbang
sekolah langkah gue terhenti, kuperhatikan lekat-lekat perempuan yang berdiri
gelisah di depan gerbang.
"Eh, neng
Mahmudah, kenapa belum pulang?," sapa gue sambil mengatur nafas yang
keteteran
"Emhh..gini,
bokap gue nggak bisa jemput karena ada urusan penting, gue disuruh naik
taksi," jawab Mahmudah.
"Ya udah,
tinggal lambaikan tangan aja sama supir taksinya. Bawa duit kan neng?," gue
ngasih saran buat perempuan itu.
"Iya, gue
tau, gue juga bawa duit, cuman masalahnya gue takut naik taksi sendirian, kalo
sopirnya orang jahat gimana?," kali ini Mahmudah kelihatan sedih.
"Neng tinggalnya
dimana sih?," tanyaku kemudian.
"Di jalan
Sultan Salim km.12, emang kenapa?," jawabnya keheranan.
"Berarti kita
searah dong.Neng bareng gue aja gimana? Naik bus. Gue jamin neng aman, soalnya
gue bakal jadi guardian angelnya eneng, hehe," ceplos gue ngegombal.
"Oke deh.
Makasih banget lho," Mahmudah kelihatannya sangat tersipu, atau malah
pengen muntah ngedengerin gombalan gue.
Kami kemudian berjalan beriringan
menuju pinggir jalan raya untuk menghadang bus. Berhubung sudah terlalu sore,
bus yang tersisa adalah bus AKAP yang gede-gede itu lho dan sering buat
pariwisata, mau nggak mau akhirnya kita berdua naik bus yang kapasitasnya sudah
sangat penuh. Tanpa sadar, gue gandeng tangan Mahmudah yang halus bak pualam,
karena gue gak ingin dia nanti nyangkut sendirian di bis. Gue berusaha masukin
Mahmudah ke bus. Gue sendiri akhirnya juga berhasil masuk bus, meskipun badan
gue jadi kayak rempeyek kegencet orang-orang obesitas yang tidak
berperikemanusiaan. Buat gue sih, berdesak-desakan naik bus itu hal biasa, tapi
yang gue pikirin adalah Mahmudah, tentu hal seperti ini sulit baginya, doi kan
anak orang kaya, mungkin saja dia jadi pusing karena alergi bau ketek orang
yang bergelantungan di bus.
"Lo gak papa
kan?," ujar gue penuh perhatian
"Selama ada
lo gue gak papa, karena gue sadar kalo ternyata gue cinta sama elo, gue sayang
sama elo, gue selalu tenang saat disisi lo, gue kagum sama ketegaran loe slama
ini, gue juga kagum dengan sifat konyol lo...gue..ju..," Mahmudah berhenti
nyerocos saat gue menempelkan jari telunjuk gue ke bibirnya. "Ssst..udah,
gue tau apa maksud ucapan lo, dan gue lebih sangat mencintai loe, saat kau
ternyata sadar akan perasaan gue selama ini. Sudahlah, kamu sebentar lagi
sampai, biar gue suruh sopir nemberhentikannya," gue mencoba mengalihkan
perhatiannya.
Kami berdua berada di pintu
belakang bus, sedangkan bus sangat penuh dan di pintu belakang tersebut gak ada
kernetnya. Gue bingung bagaimana cara membeehentikan bus ini, padahal rumah Mahmudah
hampir dekat. Akhirnya nekat saja gue berteriak sekenceng-kencengnya,"Bang,
km 12, kiri baaaaaaaaanggg!!,". Alhasil semua orang pada melototin gue
sambil nutup telinga. "Ini masih km 10 woiii, belum sampai!!, gak usah teriak-teriak
napa? Gue nggak budekk!!!"kernet yang di depan akhirnya nyahut juga. Gue
hanya cengar-cengir.Setelah bener-bener sampai di km 12, bus berhenti. Gue segera
menyuruh Mahmudah turun. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum manis sekali.
Sepeninggal Mahmudah, gue melamun,
masih gak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Hati gue berbunga-bunga
bak bunga bangkai, sampai tak menghiraukan hari yang sudah mulai gelap, gue
juga nggak terlalu menyadari saat melewati daerah yang nggak gue kenal.
"Bang, kiri
bannnnngg!,Woiii, gue kebablasan!!!," gue teriak sekenceng-kencengnya
sekali lagi setelah sadar kalo busnya sudah jauh melewati daerah biasa gue
turun.

0 comments:
Post a Comment