Wednesday, October 19, 2016

Mengejar Cinta

Edit Posted by with No comments
Mengejar Cinta
Oleh: Nida'ul Khasanah
                Menjadi lelaki seperti gue adalah orang yang beruntung, bukan karena gue ini seorang pangeran dari kerajaan Inggris yang cukup rupawan, melainkan karena gue dilahirkan dari seorang ibu yang selalu sabar menghadapi ketidakwarasan gue. Pernah suatu waktu gue tanya ke Ibu gue, "buk, ibuk nyesel gak sih punya anak kaya saya?".
"Ibu gak pernah nyesel Mat, apapun kamu dan bagaimanapun, kamu adalah tetap anak ibu," jawab ibu dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar jawaban ibu, gue jadi ikut terharu, lebih tepatnya menyesal karena gue sering minjem krim pelembap punya ibu gue tanpa ijin buat nglembapin mata gue biar gak kepanasan terus ngeliat cewek-cewek yang hot. Maklum, mata gue ini agak keranjang, soalnya sudah 17 tahun masih betah aja ngejomblo. Bukannya betah sih, emang belum ada yang cocok. Tapi belakangan ini gue mulai cocok dengan cewek yang namanya Sitimah, maksud gue bukan timah yang merupakan material tambang itu lho. Timah yang ini geulis pisan, pinter lagi. Sebenarnya, nama lengkapnya adalah Siti Mahmudah, berhubung di kelas gue yang namanya Siti  banyak banget, makanya gue kalo manggil para Siti tersebut tak singkat-singkat biar kalau dipanggil nggak nengok semua. Ada yang namanya Siti Chotijah gue panggil Siticot, ada yang namanya Siti jahrowi, gue panggil siTijah dan ada yang namanya Siti Kuzaimah, mau gak mau gue bakal panggil dia siTikus. Ahh..bodo amat lah, yang penting siTimah adalah alasan yang selalu membuat gue semangat '45 untuk ngangkot ke sekolah yang jauhnya 20 km.
                Seperti hari ini, pagi-pagi sekali gue sudah rapi mau berangkat, "Pamit dulu ya buk, Assalamualaikum," ujarku sambil mencium tangan ibu. "Waalaikumsalam, ati-ati ya le. Jangan lupa bekal telo godhognya nanti dimakan," pesan ibu ketika gue mulai melangkahkan kaki ini. Gue hanya mengangguk dan tersenyum. Kunaiki angkot yang masih sepi pagi itu, kulihat hanya ada nenek-nenek tua yang tampak mecucu mengunyah daun sirih, tapi tak gue sangka nenek itu bersin dan dihadapkan kearah gue yang tak berdosa apa-apa, "crottt", kapur sirih yang ada dimulutnya menyembur tak keruan. Untung hanya mengena tangan gue, tapi tetap saja jijayy. "Sori le, sori le", nenek itu meminta maaf tanpa rasa bersalah. Gue hanya terpaku merenungi nasib malang ini. "Sini, biar saya bantu bersihkan", ternyata di bangku belakang ada seorang gadis cantik yang mencoba membantu gue membersihkan kotoran ini dengan saputangannya. Gue menatapnya terpana, untuk sekian lama gue hanya melongo hingga ada lalat masuk yang kemudian menyadarkan gue. Kukucek-kucek mataku, ternyata gak ada siapa-siapa(efek jomblo kelamaan, jadi suka ngayal yang nggak-nggak) dan kotoran di tangan dari nenek itu masih menempel, mau tak mau gue bersihin sendiri kotoran itu.
"Bang, kiri, bang," gue menyetop supir angkot ketika sampai di sekolahan gue.
                Sampai di sekolah gue langsung berdiri nangkring di gerbang sekolah untuk menunggui pujaan hati gue siTimah. Tak berselang lama, ia muncul diantar bokapnya.
"Ehh, neng geulis, makin cerah aja pagi ini seperti mentari yang menyinari," sapa gue pada siTimah yang baru saja turun dari mobilnya.
"Apaan sih lo, brisikk aja tau. Lagian nama gue bukan gelas," balas siTimah sewot.
Cantik-cantik, ternyata budek juga ya siTimah, ato perasaan gua aja kali yak??, ahh bodo amat
"Bukan gelas neng, tapi gelis. Daripada saya panggil eneng dengan panggilan sit, mah, mud, dah ato malah mahmud, kan mending saya panggil eneng gelis, nona cantik," ucapku dengan tampang bloon, sok merayu.
"Hhehh, siapa yang panggil-panggil nama saya tadi?, nggak sopan. Kamu ya?, kurang ajar," ternyata bapaknya siTimah belum pergi, dia membuka kaca mobilnya sambil mengacungkan telunjuknya ke arah gue.
"Kenapa om?, kenalkan saya Rahmad, calon mantunya bapak," berhubung otak gue sedang rada korslet, gue malah tersenyum manis sambil menyalami calon besan gue.
"Mahmudah, siapa wong sinting ini?" Bapaknya Mahmudah kayaknya makin gemes sama gue, soalnya dia ngremes-ngremes kaca mobil dan mukanya merah padam.
"Dia Mamat pak, temen sekelas saya," jawab siTimah sambil nahan kepalan tangannya buat nonjokin gue.
"Ya sudah sana, lekas masuk kelas, gak usah gubris wong edan ini?", ucap bapaknya siTimah sambil menunjuk gue sekali lagi.
                Akhirnya gue menyadari yang sedang terjadi. Usut punya usut, bapaknya siTimah ternyata namanya Mahmud. Tapi kepalang basah, gue sudah mengawali kesan buruk terhadap calon mertua gue. Gak papalah, meskipun gue gak bisa ngrebut hatinya Bapak Mertua, yang penting gue bisa mencuri hatinya siTimah, cewek idaman gue. Dengan tanpa patah semangat, gue kejar bidadari gue yang dari tadi udah nylonong aja ninggalin gue. Akhirnya gue bisa mengejarnya setelah lari sprint dengan memperhitungkan gaya gravitasi bumi. Saat hampir gue raih tangannya, ternyata ada sampah plastik bekas tempat siomay yang membuat gue sukses tergelincir, "gedubrakkk!!!," walhasil, bibir gue kejedot lantai semen kasar yang membuatnya jadi tambah seksi. Banyak anak-anak yang kemudian berlarian ngerubutin gue. Dalam hati gue sih seneng-seneng aja, karena meskipun muka gue minimalis, tetep aja pada ngerubutin dan gue mendadak hits. Gue kira cewek-cewek cakep yang ngelilingin gue bakal nolongin, tapi ternyata mereka cuman ingin nertawain gue keras-keras. Gue memukul-mukul lantai dan menangis sejadi-jadinya. Sampai ternyata ada tangan menjulur yang memberikan pertolongan, dan akhirnya kuraih tangan itu, yang tak lain adalah tangan siTimah, pujaan hati gue.
"Makasih ya, udah mau nolongin gue," ujarku sesaat setelah gue bangun dan berdiri tegak.
"Hehem.. tapi kayaknya lo harus ke UKS deh, bibirmu berdarah," timpal siTimah sambil menunjuk bibir gue.
"Ahh,, iya..aduhh sakit..sakit," gue berpura-pura mengaduh kesakitan sambil mengipasi bibir.
                Berhubung siTimah adalah anak PMR, maka diapun mengobati sendiri bibir gue dengan cekatan. Karena saking terpesonanya gue dengan kelembutan wajahnya saat mengobati gue, sakit di bibir gue-pun udah gak kerasa lagi. Gue bisa memperhatikan wajahnya dekat sekali, "Ternyata wanita ini Subhanalloh cantiknya", pikirku.
"Sudah selesai," ucapan siTimah membuyarkan lamunan gue.
"Oh..eh," ucap gue agak grogi
"Berhubung sudah selesai, gue duluan ya," siTimah buru-buru mengemasi kotak P3K
"Sebentar Mahmudah, tunggu!," gue meraih tangannya dan mencoba menahannya.
"Mahmudah??, kenapa lo panggil gue dengan nama ini, panggilan yang sangat gue sukai," dia keheranan
"Hehe, sebenernya gue..gue,emm..pengen kasih ini ke elo sebagai tanda terima kasih udah nolongin gue," ucap gue grogi karena takut bungkusan bekal yang kujulurkan padanya bakalan ditolak mentah-mentah.
"Gue sadar, mungkin ini sangat nggak berkelas dibandingin makanan yang sering elo makan, tapi gue cuman bisa ngasih ini," lanjutku agak melow.
"Berhubung lo udah panggil gue Mahmudah, bukan siTimah lagi, gue terima deh hadiah dari lo. Lo kira gue gak suka apa sama ketela rebus, suka banget tau..," jawab Mahmudah dengan muka berseri-seri.
Alhasil hati gue jingkrak-jingkrak gak karuan mendengar kepolosan Mahmudah.
                                                                          ****************
Hari ini, gue pulang sore banget, soalnya ada ekstra olimpiade. Somplak...somplak gini, gue wakil sekolah di olimpiade bidang biologi tingkat nasional. Gue segera buru-buru menuju tempat menunggu bus yang membawa gue ke rumah idaman. Tetapi sampai gerbang sekolah langkah gue terhenti, kuperhatikan lekat-lekat perempuan yang berdiri gelisah di depan gerbang.
"Eh, neng Mahmudah, kenapa belum pulang?," sapa gue sambil mengatur nafas yang keteteran
"Emhh..gini, bokap gue nggak bisa jemput karena ada urusan penting, gue disuruh naik taksi," jawab Mahmudah.
"Ya udah, tinggal lambaikan tangan aja sama supir taksinya. Bawa duit kan neng?," gue ngasih saran buat perempuan itu.
"Iya, gue tau, gue juga bawa duit, cuman masalahnya gue takut naik taksi sendirian, kalo sopirnya orang jahat gimana?," kali ini Mahmudah kelihatan sedih.
"Neng tinggalnya dimana sih?," tanyaku kemudian.
"Di jalan Sultan Salim km.12, emang kenapa?," jawabnya keheranan.
"Berarti kita searah dong.Neng bareng gue aja gimana? Naik bus. Gue jamin neng aman, soalnya gue bakal jadi guardian angelnya eneng, hehe," ceplos gue ngegombal.
"Oke deh. Makasih banget lho," Mahmudah kelihatannya sangat tersipu, atau malah pengen muntah ngedengerin gombalan gue.
                Kami kemudian berjalan beriringan menuju pinggir jalan raya untuk menghadang bus. Berhubung sudah terlalu sore, bus yang tersisa adalah bus AKAP yang gede-gede itu lho dan sering buat pariwisata, mau nggak mau akhirnya kita berdua naik bus yang kapasitasnya sudah sangat penuh. Tanpa sadar, gue gandeng tangan Mahmudah yang halus bak pualam, karena gue gak ingin dia nanti nyangkut sendirian di bis. Gue berusaha masukin Mahmudah ke bus. Gue sendiri akhirnya juga berhasil masuk bus, meskipun badan gue jadi kayak rempeyek kegencet orang-orang obesitas yang tidak berperikemanusiaan. Buat gue sih, berdesak-desakan naik bus itu hal biasa, tapi yang gue pikirin adalah Mahmudah, tentu hal seperti ini sulit baginya, doi kan anak orang kaya, mungkin saja dia jadi pusing karena alergi bau ketek orang yang bergelantungan di bus.
"Lo gak papa kan?," ujar gue penuh perhatian
"Selama ada lo gue gak papa, karena gue sadar kalo ternyata gue cinta sama elo, gue sayang sama elo, gue selalu tenang saat disisi lo, gue kagum sama ketegaran loe slama ini, gue juga kagum dengan sifat konyol lo...gue..ju..," Mahmudah berhenti nyerocos saat gue menempelkan jari telunjuk gue ke bibirnya. "Ssst..udah, gue tau apa maksud ucapan lo, dan gue lebih sangat mencintai loe, saat kau ternyata sadar akan perasaan gue selama ini. Sudahlah, kamu sebentar lagi sampai, biar gue suruh sopir nemberhentikannya," gue mencoba mengalihkan perhatiannya.
                Kami berdua berada di pintu belakang bus, sedangkan bus sangat penuh dan di pintu belakang tersebut gak ada kernetnya. Gue bingung bagaimana cara membeehentikan bus ini, padahal rumah Mahmudah hampir dekat. Akhirnya nekat saja gue berteriak sekenceng-kencengnya,"Bang, km 12, kiri baaaaaaaaanggg!!,". Alhasil semua orang pada melototin gue sambil nutup telinga. "Ini masih km 10 woiii, belum sampai!!, gak usah teriak-teriak napa? Gue nggak budekk!!!"kernet yang di depan akhirnya nyahut juga. Gue hanya cengar-cengir.Setelah bener-bener sampai di km 12, bus berhenti. Gue segera menyuruh Mahmudah turun. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum manis sekali.
                Sepeninggal Mahmudah, gue melamun, masih gak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Hati gue berbunga-bunga bak bunga bangkai, sampai tak menghiraukan hari yang sudah mulai gelap, gue juga nggak terlalu menyadari saat melewati daerah yang nggak gue kenal.

"Bang, kiri bannnnngg!,Woiii, gue kebablasan!!!," gue teriak sekenceng-kencengnya sekali lagi setelah sadar kalo busnya sudah jauh melewati daerah biasa gue turun.

0 comments:

Post a Comment