![]() |
| Sources: https://asset-a.grid.id/ |
Menghadapi kondisi ini, pimpinan suatu pemerintahan dan negara benar-benar diharapkan kebijaksanaanya dalam membuat keputusan terkait Covid-19 ini. Tak terkecuali Indonesia, tidak hanya masyarakatnya saja yang dituntut bijaksana. Karena memang sudah sejak dahulu rakyat Indonesia sudah amat bijaksana, memiliki rasa kepedulian yang tinggi, rasa gotong royong yang tinggi. Hal ini memang sudah tercermin dalam nilai-nilai Pancasila. Semenjak awal pandemic, bagaimana orang-orang atas nama pribadi, atas nama lembaga, begitu murah hatinya mereka mengulurkan bantuan. Kegiatan tersebut sungguh sangat bagus dan patut kita dukung. Akan tetapi, apakah pandemic virus ini hanya cukup dengan masyarakat saja yang bijak?. Tentu tidak, kita juga butuh pemerintah yang bijak.
Melihat beberapa negara melonggarkan kebijakan lockdown, bahkan sudah memulai kehidupan normal, dengan menerapkan prosedur protokol kesehatan, Indonesia seolah terburu untuk juga cepat-cepat menerapkan hal yang sama. Tapi tunggu dulu, negara-negara seperti China, Thailand, Vietnam, Selandia Baru, pemerintahannya telah berupaya sangat keras dalam menanggulangi kasus ini sebelumnya, membuat kebijakan-kebijakan yang tegas, strategis, tapi solutif. Disaat negara lain masih menyepelekan kasus ini, negara-negara tersebut telah terlebih dahulu menahan diri dan mengambil langkah preventif. Sehingga saat ini kasus corona di negara tersebut dapat ditekan seminimal mungkin bahkan sampai pada nol kasus.
Kemudian muncul pertanyaan, apakah pemerintahan negara Indonesia sebelumnya sudah mengeluarkan strategi dan kebijakan yang efektif untuk menanggulangi wabah ini? Sehingga sangat buru-buru menerapkan new normal?.
Kebijakan pemerintah Indonesia sepanjang menghadapi kasus ini masih belum jelas arahnya, sehingga keberhasilannya tidak dapat diukur. Angka-angka yang muncul dalam update data jumlah positif COVID-19, jumlah yang sembuh, dan jumlah yang meninggal tidak dapat menggambarkan dan memberikan kesimpulan tentang penanganan Covid-19 di negara Indonesia. Apalagi untuk menjudge bahwa kasus Corona di Indonesia cenderung stabil.
Kembali kepada wacana new normal. Mari berkaca dari ketidakmampuan pemerintah dalam mengantisipasi masuknya virus Corona sebelumnya. Sangat mudah diprediksi, jika wacana new normal ini sebagai ungkapan halus dari "ketidakmampuan", atau "melarikan diri", atau "terserah". Kata "new normal" seolah sebagai frasa pengkaburan, melindungi diri. WHO memang menyatakan bahwasannya virus ini tidak akan bisa hilang seutuhnya dari muka bumi ini, dan kita harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan virus ini. Apakah dasar itu yang dijadikan kambing hitam, sehingga pemerintah kita akan mewacanakan new normal dengan kondisi kita yang saat ini?.
Dengan skema new normal, sangat dimungkinkan terjadi lebih banyak penambahan kasus positif Corona di Indinesia. Sedangkan kapasitas dan kualitas medis kita masih rendah. Kemudian apa yang terjadi, sungguh betapa saya tidak ingin membayangkannya.
Pemerintah saat ini malah fokus menyusun skema new normal. Dan saya sungguh sangat menyayangkan hal ini. Karena sungguh ini menunjukkan ketidakseriusan pemerintah dalam menanggulangi kasus corona. Kalau saya masih bisa usul ni Yee. Seharusnya pemerintah fokus dalam menekan, kalau perlu menghabisi virus Corona terlebih dahulu. Indonesia ini negara yang besar, negara yang kaya (katanya), silahkan dioptimalkan segala sumber daya yang ada untuk fokus menangani hal tersebut (Soalnya yang saya tahu sumber daya termasuk sumber dana sudah digelontorkan sebesar-besarnya, tapi tidak tahu jluntrungnya, dan optimal tidaknya). Buat kebijakan yang tegas, efektif, dan solutif. Kebijakan yang efektif bukan soal kaya, miskin, atau mampu, tidaknya negara, akan tetapi bagaimana kapabilitas pemerintahan dalam mencari solusi atas hal tersebut (kasarannya tingkat kecerdasan, hehe). Jangan hanya menghimbau-menghimbau, (saya ngga suka dihimbau, saya sukanya disayang) (meskipun ini sebenarnya sudah telat). Setelah penyebaran virus ini bisa ditekan seminimal mungkin, tidak ada lagi yang meninggal karena co-vid, baru silahkan dipikirkan protokol untuk new normal.
Ini hanya coretan saya, kalau ada yang salah silahkan dikoreksi. Kalau ada yang berbeda pendapat mari kita berdiskusi di kolom komentar(Nid).
Kembali kepada wacana new normal. Mari berkaca dari ketidakmampuan pemerintah dalam mengantisipasi masuknya virus Corona sebelumnya. Sangat mudah diprediksi, jika wacana new normal ini sebagai ungkapan halus dari "ketidakmampuan", atau "melarikan diri", atau "terserah". Kata "new normal" seolah sebagai frasa pengkaburan, melindungi diri. WHO memang menyatakan bahwasannya virus ini tidak akan bisa hilang seutuhnya dari muka bumi ini, dan kita harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan virus ini. Apakah dasar itu yang dijadikan kambing hitam, sehingga pemerintah kita akan mewacanakan new normal dengan kondisi kita yang saat ini?.
Dengan skema new normal, sangat dimungkinkan terjadi lebih banyak penambahan kasus positif Corona di Indinesia. Sedangkan kapasitas dan kualitas medis kita masih rendah. Kemudian apa yang terjadi, sungguh betapa saya tidak ingin membayangkannya.
Pemerintah saat ini malah fokus menyusun skema new normal. Dan saya sungguh sangat menyayangkan hal ini. Karena sungguh ini menunjukkan ketidakseriusan pemerintah dalam menanggulangi kasus corona. Kalau saya masih bisa usul ni Yee. Seharusnya pemerintah fokus dalam menekan, kalau perlu menghabisi virus Corona terlebih dahulu. Indonesia ini negara yang besar, negara yang kaya (katanya), silahkan dioptimalkan segala sumber daya yang ada untuk fokus menangani hal tersebut (Soalnya yang saya tahu sumber daya termasuk sumber dana sudah digelontorkan sebesar-besarnya, tapi tidak tahu jluntrungnya, dan optimal tidaknya). Buat kebijakan yang tegas, efektif, dan solutif. Kebijakan yang efektif bukan soal kaya, miskin, atau mampu, tidaknya negara, akan tetapi bagaimana kapabilitas pemerintahan dalam mencari solusi atas hal tersebut (kasarannya tingkat kecerdasan, hehe). Jangan hanya menghimbau-menghimbau, (saya ngga suka dihimbau, saya sukanya disayang) (meskipun ini sebenarnya sudah telat). Setelah penyebaran virus ini bisa ditekan seminimal mungkin, tidak ada lagi yang meninggal karena co-vid, baru silahkan dipikirkan protokol untuk new normal.
~Salam~
Jogja, 26 Mei 2020.
Ini hanya coretan saya, kalau ada yang salah silahkan dikoreksi. Kalau ada yang berbeda pendapat mari kita berdiskusi di kolom komentar(Nid).


Ngeriiiiiii ngeriiiiiii,
ReplyDeleteBisa New Normal again,
Lah katanya mau diterusin dan diperpanjang PSBB nya mbak:??
(Pembatasan Sosial Berskala Besar Belum Berakhir Bisa Bisa Bulan Berikutnya Bahkan Bisa Berkepanjangan Bila Banyak Bedhes Bego Bertebaran Buat Belanja Berdesakan Beli Baju Buat Berlebaran Ber-idulfitri) :v
Katanya sih
@Ahmad Zulkarnain, hehe iya mas ini sekedar ungkapan hati saya, setelah banyak media menyoroti new normal
ReplyDeleteMakasih sudah mampir����